Tuesday, October 18, 2016


Adonis (Bahasa Yunani Άδωνης, juga: Άδωνις) sosok suci surgawi berasal dari tradisi Semitik Barat, dimana dia merupakan tokoh utama dalam beragam kultus dan ritual pemujaan Agama Misteri. Sosok dan tradisi pemujaan Adonis ini masuk kedalam tradisi dan agama Yunani pada periode Helenistik. Gambaran sosok Adonisi diyakini dipengaruhi  oleh sosok dewa Osiris Mesir, Tammuz dan Baal Hadan Kanaan, Atunis Etruks, Atiis Phyrgia, yang kesemuanya merupakan dewa kebangkitan dan kesuburan.
Dalam tradisi Mediterania termasuk Yunani, Adonis dipuja sebagai dewa kemudaan yang selalu mengalami siklus kematian dan kebangkitan sepanjang tahun. Kultus pemujaan Adonis umumnya diikuti oleh kaum wanita: kultus kematian Adonis yang diperingati dengan ratapan kematiannya oleh para wanita berkembang pesat di wilayah Lesbos dan beragam wilayah Mediterannia lain hingga Alexandria, sekitar tahun 600 SM, sebagaimana tertera dalam Puisi Sappho, salah seorang penyair terkenal periode Yunani Klasik berasal dari wilayah tersebut. Berikut merupakan ratapan Adonis yang digunakan dalam kultus pemujaannya. 
 
RATAPAN UNTUK ADONIS

 Malang sungguh, malang sungguh Adonis, dia telah tiada, Adonis si tampan kini telah direnggut maut, hilang sudah Adonis rupawan, Dewi Cinta ikutlah denganku meratapinya. Tanggalkan jubah merahmu, wahai Cypris [Aphrodite], bangunlah dari tidurmu, wahai engkau yang kini lara, kenakan gaun hitammu dan tepuklah dadamu meratapinya, katakan pada mereka, ‘Dia telah tiada, Adonis rupawan telah tiada!
Malang sungguh, malang sungguh Adonis, Dewi Cinta ikut meratapi kematiannya!
Di bawah bukit terbaring tak berdaya Adonis sang rupawan dengan pahanya terluka ditikam taring babi hutan. Duka menyelimuti Cypris saat nafas terakhir berhembus dari hidup Adonis.
Malang sungguh, malang sungguh Adonis, Dewi Cinta ikut meratapi kematiannya!
Darah hitam menetes di pahanya yang bak salju, matanya sayu dan sendu, rona merah bibirnya perlahan memucat, dan dari pucat bibir itu dia berikan kecupan terakhirnya, kecupan terakhir dikenang Cypris untuk selamanya.
Malang sungguh, malang sungguh Adonis, Dewi Cinta ikut meratapi kematiannya!
Sungguh dalam tikaman luka di paha Adonis, namun lebih dalam lagi luka menganga di hati Cytherea [Aphrodite].  Gonggongan anjing hutan meratapi kepergiannya, raungan nimfa hutan membahana rimba menangisinya; namun Aphrodite dengan rambut tergerai masai menapak jalan rimba tak tentu arah,--remuk, kusut, bertelanjang kaki, hingga deduri menusuki telapak kaki menyemburatkan darah surgawinya. Melengking ia meraung tersedan menelusuri pekat hutan, meratapi kekasihnya dari Asyur, memanggil-manggil namanya yang kini telah tiada. Dari pusar sang dewa tampan menyembur darah hitam, dadanya merah bermandi darah dan di bawah pembaringannya tanah putih kini menjingga darah.
Malang sungguh, malang sungguh nasibmu Cythera, Dewi Cinta ikut meratap!
Kekasih rupawannya kini telah tiadanya, dan dengannya lenyap segala keindahan. Jelita nian sang dewi saat bersama kekasihnya, namun kecantikannya ikut lenyap bersama kematian Adonis! Malang sungguh nasibmu Cypris, bukit-bukit saling berbisik pohon cemara memberi jawab, Malang sungguh Adonis. Aliran sungai turut menangisi duka Aphrodite, dan telaga ikut meratapi kematian Adonis di puncak gunung-gunung. Bunga-bunga merona merah menyemburatkan duka.
Malang sungguh, malang sungguh nasibmu Cythera, Adonis rupawan telah tiada!
Echo menangis menggemakan ratapannya , Adonis rupawan telah tiada. Siapa kini yang akan meratapkan duka asmara Cypris? Duka kala dia menatap kekasihnya terbaring tak berdaya, kala dia menampak luka menganga Adonis, kala dia menyaksikan semburan darah merah memandikan paha letihnya seraya dia memeluk sang kekasih berujar tersedan, ‘tetaplah bersamaku Adonis, Adonis yang malang tetaplah bersamaku, untuk terakhir kalinya aku menatapmu, terakhir kalinya aku mengecup bibirmu. Bangunlah, Adonis, dan beri aku ciuman terakhirmu! Beri aku ciuman abadi dari relung jiwamu ke relung jiwaku, hingga menghisap abis racun cintamu yang manis dan mereguk seluruh cinta kasihmu. Ciuman ini akan aku kenang selamanya begitupun dengan dirimu, Adonis, sebab kini celaka sungguh diriku kau pergi meninggalkanku, pergi jauh, menuju Acheron (dunia bawah), raja yang kejam angkuh, sementara aku remuk menjalani hidup, sebab aku tak dapat mengikutimu karena keabadian wujud surgawiku! Pesephone (dewi penguasa dunia bawah), ku berikan padamu kekasihku, junjungaku, sebab kau lebih tangguh dariku, sehingga keindahan fana pada akhirnya bermuara pada dirimu. Aku merapati celaka nasib, duka tak terobati, aku meratapi Adonisku, kini meninggalkanku, dan tak berujung lara ini bagi diriku.
'You die, O thrice-desired, and my desire has flown away as a dream. No, widowed is Cytherea, and idle are the Loves along the halls! With you has the girdle of my beauty perished. For why, ah overbold, did you follow the chase, and being so fair, why were you thus overhardy to fight with beasts?'
‘Kau pergi selamanya, wahai hasrat kesayanganku, dan hasratku kini telah lenyap bersama mimpi. Tak berkekasih kini dirimu Cytherea, dan sia-sialah cinta! Bersamamu keindahan dunia telah lenyap. Namun kenapa , wahai sang takabur, kau kejar dan kau lawan binatang bengis itu?’
Malang sungguh, malang sungguh nasibmu Cythera, Adonis rupawan telah tiada!
Mengalir air mata Paphia [Aphrodite] mengiringi setiap tetesan darah Adonis, airmata dan darah yang berubah menjadi bunga. Darah yang menumbuhkan bunga mawar air mata yang menumbuhkan dandelion.
Malang sungguh, malang sungguh nasibmu Cythera, Adonis rupawan telah tiada!
Berhentilah meratapi kekasihmu dalam pekat hutan duhai Cypris. Peraduan ini bukan untuknya, guguran daun sepi tak pantas baginya! rebahkan ia di pembaringanmu—Adonis yang telah tiada. Bahkan kematianpun tak mampu hapuskan kerupawanannya. Baringkan dia dalam tidur lelap diatas alas pembaringan, yang dulu bersamanya telah engkau nikmati malam-malam dingin di atas ranjang emas. Taburkan bunga-bunga diatasnya: semua telah lenyap bersamanya tataplah pucat kelopak bunga. Lumuri tubuhnya dengan minyak dari Syria, baluri dia dengan mirah. Semua wewangian kini lenyap, tak ada weangian untuk Adonis.
Tidur lelap Adonis rupawan mengenakan jubah jingga, di sampingnya sang dewi cinta menangis, meratap tersedan, menyanggul rambut Adonis. Seseorang didekat anak panahnya, yang lain melenturkan busurnya, memasangkan sandal Adonis, meletakkan tabung panahnya yang pecah, membasuh lukanya(.????)
Malang sungguh, malang sungguh nasibmu Cythera, Adonis rupawan telah tiada!
Semua pelita dan obor telah dikeringkan Hymenaeus (dewa rumah tangga), telah terserak mahkota pengantin, tiada lagi Hymen, Hymen kini bukan menjadi kidung kita melainkan  nyanyian pilu ratap.
Malang sungguh, malang sungguh Adonis Graces kini tidak melantunkan lagu perkawinan, namun meratapi kepergian Putera Cinyras. Adonis rupawan telah tiada.
Malang sungguh, malang sungguh Adonis, lengkingan tangis para Muse, mengacuhkan Paeon, meratapi Adonis dan nyanyian pilu mereka lantunkan untuknya.
Hentikan tangismu Cythera, dari ratapanmu, hentikan lara pilumu. Sebab kau harus meratap lagi, menangisnya setahun lagi.

Reactions:

0 comments:

Post a Comment

Pengunjung Blog

Komentar Terbaru

My Blog Rank

SEO Stats powered by MyPagerank.Net

Advertisement

Translate

Popular Posts

Visitors

Total Pageviews

Powered by Blogger.

Followers

Google Followers