Merupakan dewa padang pasir bangsa arab utara pada masa sebelum kedatangan Islam. Dewa ini diketahu berasal dari sesembahan suku di wilayah gurun Palmyra. Dia juga dianggap sebagai dewa pelindung bangsa baduwi dan unta sungai.
Aglibol
Merupakan dewa bulan bangsa arab putara pada masa pra-islam. Seperti dewa Abgal, Aglibol juga disembah oleh suku badui wilayah Palmyra dan berkaitan erat dengan dewa matahari Yarhibol. Kultus penyembahan Aglibol berkembang hingga ke masa hellenis dan pendudukan bangsa romawi. Simbol dewa ini adalah bulan sabit.
Allat
Dewi bulan dan dewi pelindung bangsa arab utara dan tengah pada masa pra-islam. Dalam kepercayaan bangsa pagan arab, Allat merupakan salah satu puteri Allah. Di Palmyra, dia biasa dipanggil sebagai pelindung rumah tangga. Di Taif, diaa disimbolkan dengan wujud batu granti putih. Pada masa Helenis, Allat dihubungkan Athena, sementara menurut Herodotus yang menyebutnya Ailat, dia sejajar dengan Afrodite.
Almaqah
Dewa pelindung dan dewa bulan bangsa arab selatan pada masa pra-islam. Dewa ini disembah oleh suku Saba dengan binatang sucinya berupa seekor lembu. Dia disimbolkan dengan kilat dan sabit.
Anbay
Dewa pelindung bangsa arab selatan pra-islam dan juga merupakan dewa keadilan serta dewa yang mengilhamkan ramalan-ramalan kepada para peramal. Selain itu, Anbay juga dianggap sebagai salah seorang pelayan dewa bulan, Amm.
A’ra
Dewa pelindung arab utara pra-islam. Namanya memiliki makna altar atau tempat suci yang berasal dari kata arab yang bermakna memerahi, sebuah makna yang menyiratkan noda darah pengorbanan manusia di altar pemujaan. Dengan demikian, pemujaan terhada A’ra melibatkan pengorbanan manusia terutama anak-anak.
Altarsamain
Dewa bulan bangsa arab utara dan tengah pra-islam yang disembah oleh suku Isamme tapi dia juga dihormati oleh suku-suku arab lainnya. Dewa ini diketahui berasal dari tahun 800 SM yang dikenali dari surat-surat raja Assyria, Esarhaddon dan Assurbanipal.
Azizos
Dewa pelindung bintang bangsa arab utara pra-islam yang disembah di Palymra serta digambarkan dengan bintang fajar dan saudaranya Arsu, bintang senja. Azizos berkaitan dengan kuda atau unta. Penyembahan terhadap Azizos masuk kedalam kebudayaan Syria dimana dia juga disembah dengan nama Monimos.
Hubal
Dewa pelindung bangsa arab pra-islam dan juga merupakan dewa yang mengungkapkan peristiwa-peristiwa masa depan kepada para peramal. Patung Hubal adalah salah satu patung besar yang berdiri di Kabah Mekah pada masa kerasulan Muhammad SAW.
Malakbel
Malakbel disembah sebagai dewa pertanian oleh bangsa ara pra-islam di wilayah utara. Dalam sebuah lempengan dari tahun 132 M yang ditemukan di wilayah Palmyra, Malakbel dikatakan memiliki seorang saudara yang bernama Aglibol.
Marnas
Marnas disembah oleh bangsa arab utara sebagai dewa kesuburan. Selain sebagai dewa kesuburan, Marnas juga meerupakan dewa pelindung bangsa arab utara. Kultus penyembahan terhadap Marnas berpuat di Baza kuil Marneion yang menggantikan kultus penyembahan dewa Dagon.
Quzah
Merupakan dewa gunung dan dewa cuaca. Quzah disembah oleh bangsa arab pra-islam di wilayah utara arabia. Quzah diyakini juga sebagai dewa yang sama dengan Qos yang disembah oleh suku Idumea di wilayah Judea selatan sebagai dewa badai. Dewa ini juga disembah di wilayah-wilayah sekitar Mekah.
Kresna berasal dari Kerajaan Surasena, namun kemudian ia mendirikan
kerajaan sendiri yang diberi nama Dwaraka. Dalam wiracarita Mahabharata,
ia dikenal sebagai tokoh raja yang bijaksana, sakti, dan berwibawa.
Dalam kitab Bhagawadgita, ia adalah perantara kepribadian Brahman yang
menjabarkan ajaran kebenaran mutlak (dharma) kepada Arjuna. Ia mampu
menampakkan secercah kemahakuasaan Tuhan yang hanya disaksikan oleh tiga
orang pada waktu perang keluarga Bharata akan berlangsung. Ketiga orang
tersebut adalah Arjuna, Sanjaya, dan Byasa. Namun Sanjaya dan Byasa
tidak melihat secara langsung, melainkan melalui mata batin mereka yang
menyaksikan perang Bharatayuddha.
Yada Yadahi Dharmasya. Kresna berasal dari keluarga bangsawan di Mathura, dan merupakan putera
kedelapan yang lahir dari puteri Dewaki, dan suaminya Basudewa. Mathura
adalah ibukota dari wangsa yang memiliki hubungan dekat seperti Wresni,
Andhaka, dan Bhoja. Mereka biasanya dikenali sebagai Yadawa karena nenek
moyang mereka adalah Yadu, dan kadang-kadang dikenal sebagai Surasena
setelah adanya leluhur terkemuka yang lain. Basudewa dan Dewaki termasuk
ke dalam wangsa tersebut. Raja Kamsa, kakak Dewaki, mewarisi tahta
setelah menjebloskan ayahnya ke penjara, yaitu Raja Ugrasena. Karena
takut terhadap ramalan yang mengatakan bahwa ia akan mati di tangan
salah satu putera Dewaki, maka ia menjebloskan pasangan tersebut ke
penjara dan berencana akan membunuh semua putera Dewaki yang baru lahir.
Setelah enam putera pertamanya terbunuh, dan Dewaki kehilangan putera
ketujuhnya, lahirlah Kresna. Karena hidupnya terancam bahaya maka ia
diselundupkan keluar dan dirawat oleh orangtua tiri bernama Yasoda dan
Nanda di Gokula, Mahavana. Dua anaknya yang lain juga selamat yaitu,
Baladewa alias Balarama (putera ketujuh Dewaki, dipindahkan ke janin
Rohini, istri pertama Basudewa) dan Subadra (putera dari Basudewa dan
Rohini yang lahir setelah Baladewa dan Kresna). Kresna merupakan saudara sepupu dari kedua belah pihak dalam perang
antara Pandawa dan Korawa. Ia menawarkan mereka untuk memilih pasukannya
atau dirinya. Para Korawa mengambil pasukannya sedangkan dirinya
bersama para Pandawa. Ia pun sudi untuk menjadi kusir kereta Arjuna
dalam pertempuran akbar. Bhagawadgita merupakan wejangan yang diberikan
kepada Arjuna oleh Kresna sebelum pertempuran dimulai. Setelah perang, Kresna tinggal di Dwaraka selama 36 tahun. Kemudian pada
suatu perayaan, pertempuran meletus di antara para kesatria Wangsa
Yadawa yang saling memusnahkan satu sama lain. Lalu kakak Kresna –
Baladewa – melepaskan raga dengan cara melakukan Yoga. Kresna berhenti
menjadi raja kemudian pergi ke hutan dan duduk di bawah pohon melakukan
meditasi. Seorang pemburu yang keliru melihat sebagian kaki Kresna
seperti rusa kemudian menembakkan panahnya dan menyebabkan Kresna
mencapai keabadian. Menurut Mahabharata, kematian Kresna disebabkan oleh
kutukan Gandari. Kemarahannya setelah menyaksikan kematian
putera-puteranya menyebabkannya mengucapkan kutukan, karena Kresna tidak
mampu menghentikan peperangan. Setelah mendengar kutukan tersebut,
Kresna tersenyum dan menerima itu semua, dan menjelaskan bahwa
kewajibannya adalah bertempur di pihak yang benar, bukan mencegah
peperangan. Dalam seril Mahabharata tokoh Krishna ini diperankan oleh Saurabh Raaj Jain. Berikut adalah entry song yang digunakan sebagi bakc song krishna dalam mega serial Mahbharata.
Entry Song I (Yada Yada Hi Dharmasya)
Yada Yada Hi Dharmasya Glanirva Bhavathi Bharatha, Kapanpun kebenaran musnah Wahai Keturunan Bharata Abhyuthanam Adharmaysya Tadatmanam Srijami Aham'. Dan ketidakbenaran muncul aku akan datang menjelma Praritranaya Sadhunam Vinashaya Cha Dushkritam Untuk melindungi orang-orang baik
Dharamasansthapnaya Sambhavami Yuge-Yuge Dan menghukum orang-orang jahat aku terlahir dari masa kemasa
Entry Song II (Shri Krishna Govind)
Shri krishna govind hare murari Salam untuk Sri Krishna sang pengembala, pembunuh iblis mura Hey nath narayan vasudeva Salam wahai basudewa sang penopang kehidupan
Dua keluarga bermartabat sama dan setara Di Verona yang indah kami menggelar cerita Dendam lama kembali menguak prahara Dimana pertumpahan darah mengotori tangan mereka Dari sulbi kedua keluarga yang bermusuhan ini Sepasang kekasih lahir dan bunuh diri; Dengan kemalangan pilu mengakhiri Dan dengan kematian mengubur dendam dua keluarga. Kisah nestapa cinta mereka yang terenggut tiada Serta kelanjutan dendam antara dua keluarga mereka Yang tiada siapa dapat akhiri selain kedua pecinta Sekarang digelar dalam dua jam pementasan kita Dimana jika hadirin semua mendengar sabar menanti. Apa yang tertampilkan disini, kerja keras kami akan mungkin terobati
BABAK I. ADEGAN I VERONA . TEMPAT UMUM
Masuk Sampson dan Gregory (menenteng pedang dan simpul ikat pinggang) dari keluarga Capulet.
SAMPSON. Gregory, kehidupan di sini lebih baik daripada di sawah ladang. Disini kita menenteng pedang bukanya arit maupun parang. GREGORY. Karenanya kita akan merasa muak? SAMPSON. Tidak. Arit yang biasa kau pegang mengasarkan tangan. Dengannya kau akan bertangan kasar GREGORY Tanganmu yang berpedang telah merasa cukup kemuakkan. SAMPSON. Bukan muak tapi tepat, jika tiba waktu menyerang. GREGORY. Tapi terlambat tahu kapan itu waktu yang tepat untuk menyerang. SAMPSON. Anjing di rumah Montague kan jadi sabetan tendanganku. GREGORY. Menendang tumitmu supaya lari, begitu maksudmu. SAMPSON. Anjing Montague yang akan lari, ketika aku menghabisinya. GREGORY. Benar, anjing akan lari, duduk, atau tetap berdiri sekehendak tuannya, tapi ketika ia melihatmu ia akan mengubermu ke pagar. SAMPSON. Mundur dari pagar, begitu maksudmu. GREGORY. Maju ke pagar! Satunya-satunya Montague yang akan mundur takut karenamu hanyalah para wanita mereka. SAMPSON. Sudah semestinya! Karena setelah aku kalahkan Montague, aku akan menendang anjingnya dan menampari para kerabat perempuannya. GREGORY. Kau bicara omong besar—tetap saja kau masih seorang petani. SAMPSON. Benar, Gregory, ketika tiba waktunya untuk membajak Montague, menggarunya, kemudian menanamkannya ke dalam tanah. GREGORY. Oleh karenanya, setiap peladang adalah pejuang, dan setiap ladang adalah kemenangan SAMPSON. Dan setiap Montague ibarat sepetak kebun, dan aku penggarapnya. GREGORY. Kau seperti ayam jago berani dikandang, Sampson, berkokok menang sementara tak pernah bertemu lawan. SAMPSON. Bukan salahku, jika musuhku tak berani berhadapan muka denganku. Karena mereka tahu aku sang tak tertaklukkan. GREGORY. Kau yakin mereka tak menganggapmu seperti seekor ikan, karena kau tampak seperti bersepuh perak, tapi kau begitu tergeletak langsung tersungkur terengah-engah. Tunjukkan sepuhan perakmu—di situ telah muncul dua orang dari keluarga Montague! Masuk dua orang pelayan lain [Abram dan Balthasar] SAMPSON. Perakku sudah berkarat. Majulah kau! Aku akan mendukungmu. GREGORY. Lihat kan kau hanya berani di belakang—berani di depan yang aku inginkan SAMPSON. Jangan pedulikan aku. GREGORY. Musuh kita juga takkan mempedulikanmu. SAMPSON. Tetaplah mematuhi hukum; biarlah mereka pertama melanggarnya. GREGORY. Aku akan meludah saat aku lewat, itu akan membuat mereka merasa terhina. SAMPSON. Orang meludah karena mual atau terserang batuk berdahak. Aku akan menggigit jempolku dihadapan mereka; yang mana juga akan membuat mereka merasa terhina. ABRAM. Apa kau mengigit jempolmu kepada kami, tuan? SAMPSON. Aku memang menggigit jempolku tuan. ABRAM. Apa kau mengigit jempolmu kepada kami, tuan? SAMPSON. [berbisik pada Gregory] Apa kita mematuhi hukum jika aku bilang iya? GREGORY. [berbisik pada Sampson] Tidak SAMPSON. Tidak, tuan. Aku tidak mengigit jempolku padamu; tapi aku mengigit jempolku,tuan. GREGORY. Anda berkelahi, tuan? ABRAM. Berkelahi? Tidak, tuan. SAMPSON. Tapi jika kau ingin tuan, aku akan jadi lawanmu aku setangguh dirimu ABRAM. Tidak lebih baik. SAMPSON. Baiklah, tuan. GREGORY. [berbisik pada Sampson] Katakan lebih baik! Salah seorang kerabat majikanku datang. SAMPSON. Iya, lebih baik darimu tuan. ABRAM. Kau bohong. SAMPSON. Hunus pedangmu jika kau pria. Gregory perlihatkan sabetan indah pedangmu. Mereka berkelahi Masuk Benvolio BENVOLI O. Berhenti berkelahi, bodoh! Meleraikan pedang mereka Turunkan pedangmu. Kalian tak mengerti akibat dari perkelahian ini. Masuk Tybalt. TYBALT. Untuk apa, kau beradu pedang ditengah para pelayan tak berhati ini? Berbalik kau,Benvolio! Sambutlah kematianmu BENVOLI O. Aku hanya ingin menjaga kedamaian. Turunkan pedangmu, Atau bantu aku melerai orang-orang ini. TYBALT. Apa, kau tarik pedangmu dan berbicara damai? Aku benci kata itu Seperti aku membenci neraka, semua Montague, dan dirimu. Majulah, pengecut! Mereka berkelahi Masuk petugas dan tiga atau empat penduduk kota dengan pentungan. OFFICER. Gunakan pentungan kalian! Serang! Leraikan pedang mereka! CITIZENS. Maju dengan Capulet! Maju dengan Montague! Masuk Capulet dengan gaunnya bersama istrinya CAPULET. Suara ribut-ribuat apa ini? Berikan aku pedang panjangku, ho! LADYCAPULET. Untuk apa kau meminta pedang? CAPULET. Ku bilang mana pedangku! Montague datang Melambaikan pedangnya di hadapanku. Masuk Montague dan istrinya MONTAGUE. Dasar kau Capulet kurang ajar! Jangan pegang, lepaskan aku. LADYMONTAGUE. Kau tak boleh maju melangkah mencari perkelahian. Masuk pangeran Escalus dengan rombongannya. PRINCE. Budak pemberontak, musuh kedamaian Perusuh ketenangan kota ini. Mereka takkan mendengar? Kalian manusia beradab atau binatang biadab, Yang melampiaskan kebuasan kalian Dengan tumpahan kelabu pucat dari nadi kalian! Karena sakit siksaan, dari tangan yang berlumuran itu Turunkan senjata kalian Dan dengarkan hukuman dari pangeran penguasa kalian. Tiga kali pertengkaran ditempat umum, berawal dari adu mulut Karena ulahmu, Capulet tua, dan Montague Telah tiga kali mengganggu kedamain jalanan kota kita Jika kalian merusuh di sini sekali lagi Nyawa kalian akan menjadi penebus kerusuhan itu Sekarang, semua kalian bubar. Kau, Capulet, ikut bersamaku; Dan, Montague, temui aku sore nanti Untuk membicarakan perkara ini. Sekali lagi, demi pedih kematian, semuanya bubar. Semua keluar panggung selain Montague, istrinya dan Benvolio. MONTAGUE. Siapa yang memancing perkelahian ini? Katakan, ponakanku, apakah kau yang memulainya? BENVOLI O. Di sini muncul para pelayan musuhmu Dan juga pelayanmu, berkelahi sebelum aku datang Aku mendekat untuk melerai mereka. Lalu tiba-tiba datang Tybalt dengan amarah berapi-api menghunus pedang Dengannya, dia hembuskan hinaan ke telingaku Dia lambaikan pedangnya, tak ada yang terluka Selain desisan hinaan angin Saat kami beradu pedang dan beradu angin Pangeran datang menyelamatkan nyawa Tybalt. LADY MONTAGUE. Dimana Romeo? Apa dia terlihat muncul hari ini? Aku berharap dia tak terlibat dalam perkelahian berdarah ini. BENVOLIO. Bibi, satu jam sebelum fajar aku terbangun Dan berjalan keluar hanyut dalam renungan Di sana di bawah deretan pohon sycamore Yang tumbuh dari tembok barat ku lihat puteramu itu Aku menyapanya, tapi dia mengacuhkanku Lalu menghilang ke dalam rimbun hutan Menghilang karena kelelahan diriku— Dan aku pergi darinya yang juga pergi dariku MONTAGUE. Berkali pagi dia pergi ke sana Dengan berlinang air mata merinai embun Menambah pekat kabut pagi dengan hembusan nafasnya; Tapi ketika mentari ceria terbit benderang Menyembunyikan diri dari terang mentari putraku yang pemurung Pulang ke rumah di dalam kamar sendiri berkurung, Menutup jendelanya, mengunci diri dari cahaya siang Untuk membuat baginya gelap seperti malam Petaka dan pertanda buruk pastilah semua ini Kecuali ada nasihat baik menghapuskan penyebab perkara ini. BENVOLIO. Pamanku yang budiman, paman tahu penyebab perkara ini? MONTAGUE. Aku tak tahu dan tak pula bisa mengerti. BENVOLIO. Bukankah dia selalu berbicara terus terang. MONTAGUE. Kami telah memintanya bercerita atau memberi kami pertanda Tapi dia berpetuah pada dirinya sendiri Menjaga rapat rahasia menutup diri Seperti seekor ulat dalam selubung kepompong Yang tak pernah menampakkan sayapnya yang bersemarak warna Semisalnya kami tahu dari mana datang duka yang hampirinya Tentunya kami bisa carikan penawar untuknya. Romeo masuk BENVOLIO. Lihat itu dia. Menyingkirlah Aku akan mencari tahu perkara dukanya. MONTAGUE. Aku akan menyingkir bahagia karena kedatanganmu Untuk mendengar pengakuan jujur darinya. Ayo, istriku, kita pergi dari sini. Montague dan Istrinya meninggalkan panggung BENVOLIO Selamat pagi, sepupu. ROMEO. Apa hari masih pagi? BENVOLIO Baru jam sembilan ROMEO. Celaka aku! Di kala sedih detik-detik terasa lama. Apakah tadi itu ayahku yang berjalan tergesa-gesa? BENVOLIO. Benar. Kesedihan apa yang membuat hari-hari Romeo terasa lama? ROMEO. Tidak memiliki apa yang bisa membuatnya terasa singkat. BENVOLIO. Bukan apa, tapi siapa. Kau sedang jatuh cinta? ROMEO. Tertolak- BENVOLI O. Oleh cinta? ROMEO. Tertolak oleh keinginan orang yang ku cinta. BENVOLIO. Dari jauh cinta tampak sangat menawan, Tapi begitu dia menghunjam ke hatimu, ia bisa menjadi sangat kejam, ROMEO. Kejam karena dia hanya mengunjam di hatiku Andai terhunjam di hatinya juga, cinta itu akan terasa manis! Dimana kita akan makan malam? Ya tuhan! Pertengkaran apa yang telah terjadi? Tak perlu kau bilang, karena aku sudah mengetahuinya Ini semua karena kebencian, tapi lebih dengan cinta. Lalu kenapa wahai kedamaian bertengkar! Wahai kebencian cinta! Wahai ketiadaan yang pertama tercipta! Wahai keringanan berat! Kebijaksanaan tak berguna! Ketakteraturan dari wujud teratur! Bulu pena, kabut cemerlang, api dingin, kesakitan sehat! Terjaga dalam tidur, tiada yang ada! Aku benci cinta yang tak berkasih yang kini ku rasa. Apa kau tertawa? BENVOLIO. Tidak, sepupu. Aku lebih ingin menangis. ROMEO. Sepupu budiman, menangisi apa? BENVOLIO. Menangisi hatimu yang cengeng. ROMEO. Sungguh teman yang tak berteman dirimu kiranya! Berduka diatas himpitan beban berat dipikiranku Yang kau kan memperberatnya dengan dukanya Lebih dari itu. Cinta yang telah kau tunjukkan Memberikan lebih banyak duka dari cinta yang kini ku rasa Cinta ibarat asap yang mengepul dari nafas berhela Andai terpuaskan, bara api menyala di mata para pencinta Andai terintangi, samudera meluap oleh air mata mereka Apalagi ini? kegilaan terselubung santun Beruang dirantai, angsa cemerlang kini telah membubung terbang Sampai nanti, sepupu BENVOLIO. Tunggu! Aku ikut denganmu Jika kau meninggalkanku di sini, kau salah paham. ROMEO. Meninggalkanmu? Diriku telah hilang: apakan ini wajah yang dulu ku punya? Ini bukan Romeo, dia berada di tempat lain BENVOLIO. Katakan padaku dalam dukamu, siapakah dia yang kau cinta? ROMEO. Untuk apa, haruskah aku meratap bercerita padamu? BENVOLIO. Meratap atau tidak, terserah padamu. Kau bersedih, jadi katakan siapa yang mempersedihmu. ROMEO. Kau seperti menyuruh orang tua ringkih memahat nisan mereka Dalam duka, sepupu, aku mencintai seorang wanita. BENVOLIO. Aku sudah tahu ketika aku menebakmu sedang jatuh cinta. ROMEO. Sungguh kau ahli penembak. Wanita yang kucinta sangatlah cantik. BENVOLIO. Target yang indah mudah untuk didapat. ROMEO. Kau kan meleset. Dia takkan terpanah oleh busur Cupid. Dia tak akan tinggal untuk mendengar kata-kata manis rayuan. Tidak pula menenggang dia yang sedang rindu. BENVOLIO. Apa dia telah bersumpah untuk tidak mencinta sama sekali? ROMEO. Kesia-siaan kecantikan takkan terlampaui Sungguh suci,kecantikan dia Menuju berkah dia buatku putus asa Dia telah bersumpah untuk berhenti bercinta, dan dalam sumpah itu Aku telah hidup dalam kematian untuk menceritakannya BENVOLIO. Dengarlah aku: Lupakanlah dia. ROMEO. Ajarkan ku untuk melupakannya! BENVOLIO. Berikan kebebasan pada matamu. Pandanglah kecantikan lainnya. ROMEO. Itu adalah cara mengingatkanku bahwa dia jauh lebih cantik. Sampai jumpa. Kau tak bisa ajarkan aku melupakannya. BENVOLI O. Aku jamin itu. Meninggalkan Panggung
Karna, alias Radeya adalah nama Raja Angga dalam wiracarita Mahabharata.
Ia menjadi pendukung utama pihak Korawa dalam perang besar melawan
Pandawa. Karna merupakan kakak tertua dari tiga di antara lima Pandawa:
Yudistira, Bimasena, dan Arjuna. Dalam bagian akhir perang besar
tersebut, Karna diangkat sebagai panglima pihak Korawa, dan akhirnya
gugur di tangan Arjuna. Dalam Mahabharata diceritakan bahwa Karna
menjunjung tinggi nilai-nilai kesatria. Meski angkuh, ia juga seorang
dermawan yang murah hati, terutama kepada fakir miskin dan kaum
brahmana. Mahabharata bagian pertama atau Adiparwa mengisahkan seorang
putri bernama Kunti yang pada suatu hari ditugasi menjamu seorang
pendeta tamu ayahnya, yaitu Resi Durwasa. Atas jamuan itu, Durwasa
merasa senang dan menganugerahi Kunti sebuah ilmu kesaktian bernama
Adityahredaya, semacam mantra untuk memanggil dewa dan mendapat anugerah
putra darinya. Pada suatu hari, Kunti mencoba mantra tersebut setelah
melakukan puja di pagi hari. Ia mencoba berkonsentrasi kepada Dewa
Surya, dan sebagai akibatny, dewa penguasa matahari tersebut muncul
untuk memberinya seorang putra, sebagaimana fungsi mantra yang diucapkan
Kunti. Kunti menolak karena ia sebenarnya hanya ingin mencoba keampuhan
Adityahredaya. Surya menyatakan dengan tegas bahwa Adityahredaya
bukanlah mainan. Sebagai konsekuensinya, Kunti pun mengandung. Namun,
Surya juga membantunya segera melahirkan bayi tersebut. Dalam perang
bharatayudha, Karna berada di pihaka korawa dan gugur di tangan Arjuna.
Dalam serial TV Mahabharat, tokoh Karna diperankan oleh Aham Sharma.
Berikut merupakan lirik dari entry theme song atau lagu Karna dalam
serial tersebut beserta terjemahan bahasa indonesianya. Lagu ini
merupakan sebuah sloka yang ditulis dalam bahasa sansekerta.
Surya putra karnah..
Wahai Karna Sang Putera Dewa Surya
Parshuram shishyaha karnah..
Karna murid dari Parashurama
Suto va sut putro vayo
Tak mengapa daku seorang kusir kereta, putera kusik kereta
Vakova bhavamyaham..
Atau siapapun daku tidaklah penting
Daiva yettam kule janm
Terlahir dari sebuah kasta adalah keputusan takdir
Madayettam tu paurusham
Namun kekuatan dan kemahsyuran ku gapai sendiri
Paurusham paurusham..
Karena kemampuan, karena kemampuan
Suto va sut putro vayo
Tak mengapa daku seorang kusir kereta, putera kusik kereta
Vakova bhavamyaham..
Atau siapapun daku tidaklah penting
Daiva yettam kule janm
Terlahir dari sebuah kasta adalah keputusan takdir
Postingan ini bermula ketika admin dimintai tolong untuk menerjemahkan sebuah sloka oleh seorang teman. yang admin kira ditulis dalam bahasa Hindi. Karena tidak mengerti bahasa hindi jadilah admin juga meminta bantuan kepada seorang teman yang memiliki kenalan facebook orang-orang india, akan tetapi sayangnya merekapun tidak mengerti arti sloka tsb. Usut punya usut, ternyata sloka tersebut tertulis dalam bahasa Sansekerta dan merupakan entry theme song tokoh Arjuna dalam serial Mahabharat. Setelah browsing sana-sini dan tidak menemukan terjemahan sloka atau lagu yang berjudul Gandiv Dhaari Arjun itu, admin akhirnya mendownload sebuah kamus sanksrit-english dan menerjemahkannya sendiri. Karena sekarang lagi indonesia pada demam Serial Mahabharat, admin berinisiatif untuk memposting arti dari lagu Gandiv Dhaari Arjun tsb, kira-kira berikut terjemahannya,