Wednesday, October 19, 2011


The Yellow Wallpaper

Written by: Charlotte Perkins Gilman
Translated and edited into Indonesian by:
Rendi Afriadi
Muhammad Ridwan
Jarang sekali orang-orang  seperti Aku dan John berdiam di rumah tua peninggalan keluarga di musim panas. Sebuah rumah besar bergaya kolonial, warisan keluarga, menurutku rumah itu berhantu dan memberikan suasana romantis – tetapi itu terlalu berlebihan.
Dengan yakin ku katakan ada  sesuatu yang aneh dengan rumah itu. Lagipula, mengapa rumahnya dibiarkan begitu saja dan lama tidak disewakan.
John mentertawakanku, tentu saja,  dengan tawa yang diinginkan orang-orang dalam pernikahan mereka.
John sangat menyukai hal-hal yang menantang. Ia tidak mempercayai, hal-hal yang berbau mistis seperti takhayul, Ia selalu  mengejek secara terang terangan semua pembicaraan yang menyangkut hal-hal yang tidak masuk akal.
John adalah seorang dokter. Mungkin… (Aku takkan mengatakannya terang-terangan, ini hanya ada di kertas dan fikiranku)… Mungkin, itulah alasannya mengapa aku tidak sembuh-sembuh.
Tahukah kau, dia tidak percaya kalau aku sakit!
Terus, apa yang bisa kuperbuat?
Seandainya seorang dokter yang berkedudukan tinggi , yang adalah suaminya sendiri, meyakinkan kerabat dan rekan kerjanya bahwa  tidak ada yang salah denagn orang tersebut kecuali kegalauan yang teramat sangat – sehingga sering memperbesarkan masalah yang kecil –  Apa yang harus Ia lakukan?
Saudara laki-lakiku juga seorang dokter, yang juga berkedududkan tinggi seperti john, dan Ia juga selalu mengucapkan hal yang sama.
Aku diharuskan meminum fosfat atau fosfit- Apalah itu namanya, dan tonik, berjalan-jalan menghirup udara segar serta latihan fisik, dan tentu saja aku dilarang melakukan pekerjaan yang berat sampai aku sembuh total.
Sebenarnya, Aku tidak setuju dengan ide mereka.
Jujur, ku yakin pekerjaan kusuka akan  membuatku lebih baik.
Tapi yang mana yang bisa kupilih?
 Akhirnya ku pilih untuk menulis daripada melakukan hal yang mereka ingini, tetapi menulis menguras seluruh tenagaku hingga ku ambil keputusan – untuk lebih berpandai-pandai mengatur waktuku, sehingga ku tetap bisa menulis tetapi tidak merasakan capek.
Terkadang ku berhayal bagaimana jika sekiranya keadaanku tidak terlalu sibuk dan membaur dengan masyarakat dan menyemangati mereka. Tapi kata John, membayangkan / memikirkan keadaanku adalah hal terburuk yang bisa kulakukan dan ku akui itu memang benar.
Akan ku lupakan hal-hal itu dan mulai membicarakan rumah ini.
Tempat yang sangat indah! Tenang, berada di belakang jalan, dengan jarak kira kira 3 mil dari pedesaaan. Tempat ini kelihatan seperti tempat-tempat yang ada di Inggris seperti yang sering kau baca, disetiap sisi dipenuhi tanaman pagar tembok dan gerbang yang terkunci, dan beberapa rumah kecil yang terpisah-pisah untuk para tukang kebun dan pembantu.
Kebun yang sangat Indah! Aku belum pernah melihat kebun yang seperti ini  - luas dan teduh – dipenuhi jalan setapak yang berbatu, dan dipagari pondok-pondok kecil yang beratapkan anggur-anggur dengan tempat duduk di bawahnya.
Juga ada banyak rumah kaca, tapi, semuanya sudah rusak. Aku yakin rusaknya rumah itu berhubungan dengan masalah hukum, mungkin saja berkaitan dengan masalah warisan. Lagipula, tempat ini sudah tidak dihuni selama bertahun-tahun.
Kesemua hal itu perlahan menakutiku, Akupun takut, tapi ku tak peduli. Ada yang aneh dengan rumah ini – ku bisa merasakannya.
Disuatu malam aku pernah mengatakannya pada John, tapi katanya itu hanya perasaanku saja.
Terkadang aku marah tanpa alasan kepada John. Aku  yakin ku tak pernah sesensitif ini sebelumnya. Kurasa ini disebabkan oleh kondisiku yang tengah galau.
Kata John, sekiranya hal itu memang benar itupun disebabkan karena aku yang tidak bisa mengendalikan diriku dengan baik, makanya aku menyakiti diriku sendiri – setidaknya di depannya, itu membuatku muak.
Aku kurang suka dengan kamar kami. Ku ingin kamar yang ada di lantai bawah yang terbuka di piazza dengan bunga mawar yang merambati jendelanya serta tirai usang yang masih cantik, tapi john tidak mengindahkannya.
Katanya di situ hanya ada satu jendela dan satu tempat tidur apalagi tidak ada kamar lain yang dekat jika sekiranya ia ingin mengambil kamar lain.
John sangat telaten dan penyayang, dan jarang sekali Ia mengaturku dengan hardikan.
Setiap hari aku harus meminum obat di setiap jamnya, Ia merawatku dengan sangat baik, makanya aku merasa seperti orang yang tidak tahu terimakasih jika masih terus memprotesnya.
Kata John Kami datang kesini semata-mata hanya untuk kesembuhanku, aku mesti istirahat total dan menghirup udara segar sesering mungkin. “Kesembuhanmu tergantung pada kekuatanmu sayang,” katanya “kau makan memang tergantung pada seleramu, tapi kau bisa menghirup udara segar kapanpun kau mau, makanya kita menempati kamar anak-anak yang ada di lantai atas.”
Kamarnya besar dan banyak udara serta sinar matahari yang masuk. Pertama, ruangan ini digunakan sebagai kamar anak-anak, kemudian tempat bermain dan ruang olahraga, karena jendelanya diberikan penghalang untuk anak kecil. Dan juga ada ring dan peralatan olahraga lainnya di kamar itu.
Sedangkan lukisan gambar yang ada disana menyiratkan kalau ruangan ini pernah digunakan sebagai taman bermain anak-anak.
Kertas gambarnya yang mengelupas menempel di kepala ranjangku, kira-kira setinggi jangkauan tanganku, dan juga disisi lain ruangan itu. Aku tidak pernah melihat kertas gambar yang lebih jelek dari itu sebelumnya.
Salah satu kertas yang berpola bunga-bunga yang berguguran menggambarkan keberdosaan.
Gambarnya membosankan mata yang memandang, sangat mengganggu dan juga akan mengusikmu,
Warnanya yang menjijikkan, hampir memuakkanku,warna kuning yang menjijikkan itu memudar karena sinar matahari.
Walaupun gambarnya menjemukan, tetapi masih ada gambar lain yang berwarna orange yang mengundang rasa takut, serta warna belerang yang memuakkanku disisi lainnya.
Tidak heran kalau anak-anak tidak menyukainya! Aku sendiri juga tidak suka jika terus berlama lama di ruangan ini. John datang, aku harus menyembunyikan ini, dia tidak suka aku menulis.
Kami sudah tinggal disini selama dua minggu, aku tidak merasakan enaknya menulis semenjak pertama kali aku berada disini.
Sekarang aku tengah duduk di dekat jendela, disini. Diatas kamar yang seram itu, tak ada yang mengganggu aktifitas menulisku, seperti yang kuinginkan, ini sedikit menghemat tenagaku.
Seharian John diluar, dan terkadang hingga larut malam jika ada masalah serius.
Untungnya masalahku ini tidak terlalu serius.
Tapi kegalauan ini sungguh sangat mengekangku, John tidak tahu bagaimana menderitanya diriku. Yang ia tahu, tidak ada satupun hal yang perlu dideritakan dan itu memuaskannya.
Memang ini hanyalah kegalauan, tapi ini sungguh membuatku sulit untuk melakukan tugasku. Aku benar-benar ingin membantu John agar Ia bisa beristirahat dengan tenang dan puas. Tapi disini aku benar-benar menyusahkannya.
Tak seorangpun yakin aku dapat melakukan satu usaha apapun – berdandan, menghibur dan menata barang-barang.
Untungnya, mari pandai mengurus bayi itu, bayi yang sangat tampan.
Akan tetapi aku masih belum saja bisa bersamanya, ini makin membuatku galau.
Aku rasa John tidak pernah merasakan kegalauan di hidupnya. Ia mentertawakanku dan juga tentang wallpaper itu.
Mulanya John ingin mengganti wallpaper itu, tapi kemudian Ia mengatakan untuk membiarkan saja dan tidak ada hal yang lebih buruk lagi bagiku selain hanya menghayalkan wallpaper itu.
Katanya kalau wallpapernya diganti maka akan ada ketimpangan pada ranjang, jendela dan pintu.
“tahukah kau tempat ini akan membuatmu lebih baik,” Ungkapnya “dan sungguh, sayang, Aku tidak mau merenovasi rumah ini karena kita hanya menyewanya selama tiga bulan.”
“lalu mengapa kita tidak di bawah saja,” balasku, “ada banyak ruangan yang lebih bagus di sana.”
Iapun memelukku dan memanggilku angsa kecil yang terberkati, dan Ia mengatakan Ia akan masuk keruangan bawah tanah bila aku mau dan Iapun setuju untuk mengapurinya jika perlu.
Dia memang benar tentang ranjang itu, jendela dll.
Ruangan ini sungguh sejuk dan nyaman seperti yang diidamkan banyak orang, dan tentunya, aku tak ingin membuat John tidak nyaman dengan sikapku.
Perlahan aku  mulai menyukai kamar besar ini kecuali wallpaper yang menyeramkan itu.
Di salah satu jendelanya aku dapat melihat kebun itu, rumah kebun yang teduh dan misterius, dengan bunga-bunga liar, semak-semak, serta pohon yang besar.
Disisi lainnya aku dapat melihat pemandangan teluk yang permai dan dermaga pribadi  kecil milik orang kaya. Ada penurunan yang di penuhi pohon-pohon disisi kiri-kanan jalan dari rumah itu. Aku membayangkan orang-orang berjalan menuruni jalan itu. Tapi John melarangku untuk  berkhayal sedikitpun. Katanya daya yang Imajinasiku tinggi dan kebiasaanku menulis cerita akan memperparah sakitku, jika terus berkhayal. Aku harus bisa mengontrol emosiku.
Terkadang aku berasumsi, jika sekiranya Aku menulis dengan cukup baik, itu akan meringankan beban fikiranku dan menenangkanku.
Tapi kenyataan yang kutemukan, aku kelelahan disaat mencobanya.
Tanpa ada nasihat dan teman disaat bekerja membuat hatiku makin menciut. Kata John, diwaktu aku sudah benar-benar sembuh, kami akan meminta sepupu kami Henry dan Julia berkunjung kerumah; tapi katanya mereka akan memberikan kejutan dengan anggotanya.
Aku harap aku bisa lekas sembuh.
Tapi aku tidak boleh memikirkannya. Wallpaper itu terus menatapku seolah Ia tahu kalau Ia memiliki pengaruh yang besar padaku.
Rentetan noda-noda di wallpaper itu membuatnya kelihatan seperti leher yang patah dan membentuk dua mata yang menatapmu secara terbalik.
Aku benar-benar muak dengan kertas itu. Kertas itu menebarkan pola-polanya dan membentuk mata-mata dimana-mana.
Belum pernah kulihat benda mati memiliki ekspresi yang begitu banyak sebelumnya, dan kita semua tahu betapa banyak ekspresi yang mereka miliki.
Diwaktu kanak-kanak dulu aku terbangun di sebuah kamar dengan tembok yang bersih dan mainan-mainan yang bisa kau jumpai di toko mainan.
Aku masih ingat bagaimana bentuk tombol pembuka lemari pakaianku dulu. Dan ada satu kursi disana yang selalu menjadi temanku.
Jika aku merasa takut, aku akan naik ke atas kursi itu dan merasa aman.
Perabotan yang ada di kamar ini sama sekali tidak cocok, karena kita mengambilnya dari lantai bawah. Menurutku, barang-barang yang ada di kamar ini dikeluarkan disaat ruangan ini digunakan sebagai tempat bermain.
Wallpaper itu, seperti yang telah kukatakan sebelumnya, tersebar noda-noda di atasnya, dan menempel dengan kuatnya.
Lantainya kasar, dungkul dan pecah-pecah. Plasternya bertebaran kesetiap sudut ruangan. Dan ranjangnya tampak sangat buruk, seakan ranjang ini telah ada di sini sejak jaman perperangan.
Tapi ku tak peduli, hanya wallpaper itu yang menjadi masalah bagiku.
Saudara perempuan John datang. Ia sungguh sungguh gadis yang manis dan sangat peduli padaku, ia tidak boleh melihatku menulis.
Ia adalah pengurus rumah tangga yang sempurna dan bersemangat, ia tidak menginginkan pekerjaan lain yang lebih baik. Aku yakin, menurutnya aktivitas menuliskulah yang membuatku sakit.
Akhirnya ku bisa menulis sebab ia telah pergi, dan aku melihatnya lewat jendela berjalan menjauh.
Ada seseorang yang mengatur jalan, jalannya indah dan berliku-liku dan ada seseorang menuju perkampungan. Desanya juga indah penuh dengan pohon elm yang besar dan padang rumputnya yang seperti beludru.
Di wallpaper ini ada pola lainnya dalam corak yang berbeda, pola yang benar-benar menjijikkan, karena kau hanya bisa melihatnya dengan cahaya tertentu, dan itupun tidak jelas.
Tapi di salah satu bagian pola yang tidak memudar – aku bisa melihat sosok aneh, tak berbentuk dan memancing keingintahuanku, sosok itu tampaknya sedang bersembunyi di belakang pola yang lucu dan mencolok itu.
4 juli akhirnya berakhir[1]! Semua orang pergi aku kelelahan. Menurut John, mungkin Aku sebaiknya hanya mengunjungi orang-orang terdekat saja. Makanya kami hanya mengunjungi Ibu dan Nellie selama seminggu.
Tentunya aku tidak melakukan apa-apa. Jennielah yang mengurusi semuanya, akan  tetapi aku tetap kelelahan.
Kata John jika aku tidak lekas sembuh. Ia akan mengirimku pada Weir Mitchell di musim gugur.
Aku sungguh tidak ingin kesana. Temanku pernah dirawat olehnya, katanya ia sama saja dengan dengan John dan saudara laki-lakiku.
Lagipula, usaha ini terkesan terlalu memaksa.
Aku rasa, seolah-olah aku bisa melakukan apa saja, Aku sangat cerewet dan suka bersungut-sungut.
Aku tidak tahu apa yang aku tangisi,akan tetapi aku hampir menangis setiap waktu.
Tentunya aku tidak menangis jika ada John atau ada orang lain disini, Aku menangis disaat sendirian.
Aku benar-benar sendirian sekarang. John sering berada di kota karena masalah-masalah serius dan Jennie membiarkanku sendiri jika aku menginginkannya.
Aku berjalan-jalan di kebun kecil itu, menuruni jalan setapak yang indah itu, duduk di serambi yang beratapkan mawar, dan berbaring di sini.
Aku mulai menyukai kamar itu meskipun dengan wallpapernya. Mungkin karena wallpapernya.
Wallpaper itu juga mendiami fikiranku.
Aku berbaring di ranjang besar yang tidak bisa digerakkan itu – ranjangnya dipaku kelantai, dan menelusuri pola gambar itu. Menelusurinya pola pola itu sama bagusnya dengan berolahraga. Aku jamin itu.
Mari kita mulai menelusurinya, dibagian dasar, di bawah salah satu sudut yang tidak pernah tersentuh, untuk kesekian kalinya aku tidak bisa menentukan pola macam apa itu.
Aku sedikit mengetahui tentang konsep pemolaan, dan yang satu ini tidak disusun berdasarkan hukum – hukum penyebaran, selang – seling, pengulangan, simetri atau pola-pola lain yang pernah kudengar.
Polanya memang berulang-ulang tetapi hanya kelebarannya, bukan yang lainnya.
Lihat disalah satu permukaan, garisnya menggelembung dan bertuliskan tulisan hiasan – sejenis debased romanesque dengan deliberium tremens – naik turun di kolom yang terpisah.
Tapi, disisi lain, garis itu bersambung secara diagonal, dan bentangan garis itu membentuk gelombang yang memuakkan mata, seperti tumpukan ganggang laut.
Semuanya menjadi horizontal, setidaknya tampak seperti itu, aku kelelahan membedakan arah – arah garis itu.
Ada hiasan horizontal melintang pada dindingnya ini semakin membingungkanku.
Diujung ruangan pola – pola itu menyatu, ketika cahaya matahari mulai meredup, dengan arah pola – pola itu tampak memusat dan langsung berselang – seling dengan teratur.
Aku kelelahan menelusuri pola-pola itu. Aku rasa aku harus tidur.
Aku tidak tahu kenapa aku harus menulis ini.
Aku tidak ingin.
Aku merasa tidak sanggup.
Aku tahu John akan menganggap itu aneh, tetapi aku merasa ini seperti memberikanku sebuah kepuasan.
Akan tetapi upayaku lebih besar dari kepuasan itu.
Sekarang, aku letih sekali  seharusnya aku lebih banyak tidur. Kata John aku tidak boleh terlalu capek, dan dia menyuruhku meminum minyak hati ikan kod, tonik, dan lainnya, seperti bir anggur dan sejenis daging yang jarang yang kau temui.
John sayang! Dia sangat mencintaiku, dan Ia tidak ingin aku sakit, suatu hari aku mencoba berbicara dengannya, aku ingin Ia membiarkanku pergi mengunjungi sepupuku Henry dan Julia.
Tapi katanya, aku tidak boleh pergi, aku tidak sempat memberikan alasan itu akan membutku lebih baik karena telah menangis sebelum mengatakanya.
Semakin sulit bagiku untuk berfikir jernih, hanya kegalauan ini yang kurasa.
John memelukku, membawaku ke lantai atas dan membaringkanku di ranjang. John duduk di sampingku. Dan membacakan cerita untukku hingga aku tertidur.
Katanya Akulah kekasihnya yang memberikan ketenangan hidupnya dan segalanya baginya, sebab itulah ku harus menjaga diriku untuknya dan tetap sehat.
Katanya tidak ada yang lain selain diriku yang mampu membuatku keluar dari masalah ini, untuk itulah aku harus menggunakan segenap kemampuanku dan mengendalikan diri serta tidak membiarkan khayalan-khayalan aneh mencengkeramku.
Ada kebahagian lain bagiku, bayinya masih sehat, Untunglah Ia tidak diharuskan menempati kamar yang menyeramkan ini.
Jika kami tidak menggunakannya, maka Ia akan menggunakannya! Sungguh beruntung. Kenapa?, Aku takkan membiarkan bayiku menempati kamar ini, tentu lebih mudah bagiku bertahan dikamar ini daripada anakku.
Aku tidak pernah menyebut soal wallpaper itu lagi kepada mereka , tetapi semuanya  kusaksikan tetap sama.
Ada sesuatu di wallpaper itu yang tidak ada – orang yang tahu selain aku.
Di belakang permukaan luar gambar itu ada bentuk suram yang semakin lama semakin tampak jelas dari hari kehari.
Bentuknya tetap sama, hanya saja semakin bertambah banyak. Bentuknya seperti wanita yang membungkukkan badannya dan merangkak perlahan di belakang gambar itu. Aku tidak menyukainya – Ku mulai berfikir – Ku harap John akan mengeluarkanku dari sini.
Sulit sekali membicarakan masalahku ini kepada John. Sebab Ia sangat bijak dan sangat mencintaiku.
Aku mencoba membicarakannya semalam.
Di malam terang bulan. Bulan bersinar terang seperti sinar matahari.
Terkadang aku tidak suka melihatnya, cahayanya begerak perlahan dan selalu muncul di salah satu Jendela dan jendela lainnya.
John tertidur, Ku tidak ingin membangunkannya, sehingga Ku tetap diam dan memperhatikan cahaya bulan di wallpaper yang bergelombang itu.
Sosok yang tidak jelas di belakang gambar itu terlihat menggerak-gerakkan gambarnya, seolah-olah Ia ingin keluar. Perlahan-lahan aku bangun dan memeriksa apakah wallpapernya memang bergerak, waktu ku kembali keranjang john terbangun.
“kenapa, sayang?” ucapnya, “jangan berjalan seperti itu kau kan kedinginan.”
Kurasa inilah waktunya membicarakan masalah itu, Ku beritahu padanya kalau aku tidak akan memperoleh keuntungan jika terus disini dan ku harap Ia akan membawaku pergi.
“kenapa sayang,” ucapnya, “sewa rumah ini akan berakhir 3 minggu lagi, dan aku tak mengerti kenapa kita harus cepat-cepat pergi.”
“rumah kita belum selesai diperbaiki, dan aku benar-benar tidak bisa meninggalkan kota ini sekarang. Tentunya jika kamu benar-benar dalam keadaan berbahaya, kita akan pergi, tetapi keadaanmu semakin membaik, tak taukah kau. Aku ini dokter sayang dan aku tahu itu. Kau bertambah gemuk dan ceria, selera makanmu semakin meningkat. Ku rasa kau semakin membaik.”
“beratku tidak bertambah,” balasku, “tidak sedikitpun, selera makanku mungkin bertambah di malam hari saat kau di sini, tapi malah memburuk saat kau pergi di pagi hari.”
“berkatilah hatinya! Ucapnya seraya memelukku, “ia akan sakit seperti yang diinginkan, sekarang mari kita tidur dan kita bicarakan ini besok pagi!”
“kau takkan pergi?” tanyaku murung.
“kenapa, aku tak bisa, sayang? Hanya 3 minggu lagi kok dan kita akan pergi berjalan-jalan sementara Jennie mempersiapkan rumah kita. Benar sayang kau semakin membaik!”
“mungkin hanya fisikku saja yang membaik-” Aku mulai bicara dan tiba-tiba berhenti karena Ia melihatku dan menatapku dengan tegang, sebuah tatapan menyalahkan sehingga aku tidak bisa berkata lagi.
“sayang,” katanya, “kumohon padamu. Demi Aku, demi anak kita dan juga demi dirimu, kau takkan pernah membiarkan pikiran itu  memasuki fikiranmu lagi, tak ada yang berbahaya, mempesona, dan berbakat seni seperti dirimu. itu  hanyalah khayalan yang konyol. Tidakkah kau percaya padaku sebagai seorang dokter?”
Tentu saja aku tidak memprotes lagi, kami segera tidur. Ia fikir aku tidur duluan tetapi tidak. Aku terbaring berjam-jam mencoba memutuskan apakah yang ada di depan dan di belakang gambar itu yang bergerak bersamaan atau terpisah.
Di gambar ini, dengan cahaya siang, ada ketimpangan pada rangkaian pola, yang sangat mengganggu fikiran normal.
Warnanya tersembunyi, dan memuakkan, bentuk gambarnya menjijikkan. Pola gambar luarnya berdesain arasbesque kemerah-merahan bentuknya akan mengingatkan seseorang dengan bentuk jamur. Bisa bayangkan, jamur-jamur payung, yang jalinan benangnya tidak terputus-putus, berpucuk, dan bertunas berbelit-belit – seperti itulah rupanya.
Ada tanda yang menganehkan di wallpaper itu, sebuah tanda yang tidak disadari oleh orang lain selain aku, dan tanda itu terus berubah seiring dengan berubahnya arah cahaya. Disaat sinar matahari masuk lewat jendela yang ada di sebelah timur – Aku sering menyaksikannya – tanda itu berubah dengan cepat, sulit bagiku untuk mempercayainya.
Itulah alasannya mengapa Aku selalu memperhatikannya.
Di bawah cahaya bulan yang bersinar semalaman. Aku tidak tahu apakah itu masih tanda yang sama.
Di saat cahaya senja masih enggan menghilang, dengan cahaya lilin, cahaya lampu apalagi cahaya bulan, tanda itu malah tampak seperti jeruji. Maksudku, gambar yang ada di luarnya, dan wanita yang ada di belakang gambar itu tampak semakin jelas.
Aku tidak tahu pasti apa yang ada di belakang gambar itu. Tapi aku mulai yakin kalau itu adalah sosok seorang wanita.
Sekarang aku lebih sering tidur. Kata John itu bagus, aku harus tidur sebisaku.
Seperti biasanya John menidurkanku setelah waktu makan selesai.
Ini kebiasaan yang sangat buruk, Aku sangat yakin, karena sebenarnya aku tidak tertidur.
Itu hanyalah kepura-puraan, Aku tidak memberitahu mereka kalau sebenarnya Aku masih terjaga.
 Akhir-akhir ini aku mulai takut pada John, karena akhir-akhir ini John agak aneh, Bahkan Jennie sering menatapku dengan pandangan yang tidak bisa kupahami.
Aku pernah melihat John dan Jennie beberapa kali memperhatikan wallpaper itu, bahkan Jennie pernah menyentuhnya dengan tangan.
Ia tidak tahu kalau aku ada di sana disaat aku melihat Jennie menyentuh wallpaper itu,  aku menanyainya dengan suara setenang mungkin, apa yang dilakukannya dengan kertas itu?, Ia terkejut seakan-akan Ia sedang tertangkap basah mencuri, dan kelihatan marah. Ia balik bertanya mengapa Aku mengejutkannya.
Lalu, katanya kertas itu mengotori semua yang mengenainya, Jennie menemukan noda-noda kuning di semua pakaianku dan John dan Ia berharap agar  kami lebih berhati-hati dengan kertas itu.
Tidakkah itu kedengaran konyol? Aku tahu  kalau sebenarnya Ia tengah mempelajari pola gambar itu, dan Aku pastikan tidak ada yang dapat menemukannya kecuali aku.
Sekarang semuanya lebih mengasyikan daripada sebelumnya. Kau tahu, ada sesuatau yang kuharapakan, kunantikan dan kusaksikan. Aku makan lebih banyak dan merasa lebih tenang dibandingkan sebelumnya.
John senang sekali melihat perkembanganku – disuatu hari dia berkata Aku kelihatan lebih menarik dari wallpaper itu.
Aku tertawa. Aku tidak ingin memberitahu John. Ini semua karena wallpaper itu – Ia akan mentertawakanku, bahkan Ia mungkin akan membawaku keluar dari rumah ini.
Aku tidak ingin pergi hingga aku memecahkan misteri wallpaper itu. Masih ada waktu seminggu lagi, Aku rasa itu cukup.
Aku merasa sangat baik sekarang! Aku sering tidak tidur dimalam hari, karena aku lebih tertarik memperhatikan wallpaper itu ,  aku hanya tertidur di siang hari.
Disiang hari wallpaper itu membosankanku dan membingungkanku.
Selalu ada tunas baru di gambar jamurnya, dengan corak kuning di atasnya. Aku tidak bisa menghitungnya meski aku terus mencobanya.
Warna kuningnya yang mengganjilkan – membuatku membayangkan  benda-benda kuning yang pernah kulihat – kuningnya tidak secantik kuning butter cups, tapi agak buruk, kuning yang buruk.
Tapi masih ada lagi hal yang menganehkan dengan wallpaper itu, aromanya!
Aku bisa mencium aromanya walaupun banyak udara yang masuk bersamaan dengan cahaya matahari. Beberapa hari ini sering hujan disertai kabut dan tidak peduli apakah jendelanya terbuka ataupun tertutup aroma itu masih tetap ada.
Baunya menyebar di setiap sudut rumah.
Aku menemukannya melayang-layang di ruang makan, menyelinap di kamar tamu, bersembunyi di ruang depan, dan menungguku di tangga.
Bau itu juga menyentuh rambutku.
Bahkan disaat aku berkendara, jika ku putar kepalaku maka kudapatkan bau itu.
Bau yang juga asing! Aku menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mencoba menerka bau itu.
Bau yang tidak buruk – sangat lembut dan tidak menyengat, bau yang paling tahan lama yang pernah ku temukan.
Diudara yang lembab seperti ini bau itu menghilang, disaat ku terbangun di malam hari aku kembali menciumnya.
Mulanya bau itu sangat mengangguku, bahkan aku pernah ingin membakar rumah ini demi menemukan bau itu.
Tapi sekarang ku mulai terbiasa. Yang ada di fikiranku saat ini adalah warnanya! Kuning.
Ada tanda yang lucu di tembok, merendah, di dekat papan. Sebuah coretan yang mengelilingi kamar. Coretan itu ada di setiap perabotan, kecuali di ranjang, berbentuk panjang dan lurus bahkan tidak beraturan seolah-olah pernah digosok berkali-kali.
Aku penasaran bagaimana itu bisa dibuat, siapa yang membuatnya dan untuk apa itu dibuat, bentuknya bulat-bulat, bulat, bulat –membuatku pusing memerhatikanya.
Akhirnya ku temukan sesuatu.
Semalam sewaktu gambar itu berubah, akhirnya aku menemukannya.
Pola gambar itu memang bergerak… tidak salah lagi. Wanita yang di belakang gambar itu yang menggerakkannya.
Terkadang aku merasa ada banyak wanita yang menggerakkan gambar itu, terkadang hanya ada satu dan merangkak cepat, rangkakkannya menggerakkan kertas itu.
Kemudian di bagian pola gambar yang terang ia diam. Dan di bagian yang teduh Ia memegang jeruji jendela sambil menggoyangkannya dengan kuat.
Ia terus berusaha memanjati gambar itu, tapi tak ada yang dapat memanjatinya. Gambarnya sangat mencekik, kurasa itulah alasannya mengapa gambarnya begitu banyak paku.
Mereka terus memanjat, gambar itu mencekik dan membuat mereka terjatuh.
Aku rasa wanita itu keluar disiang hari.
Ku pernah melihatnya.
Aku melihatnya keluar melalui jendelaku.
Wanita yang sama, aku tahu, karena Ia selalu merangkak dan kebanyakan wanita tidak merangkak di siang hari.
Aku melihatnya di jalanan di bawak pepohonan, dan diwaktu ada kereta yang lewat Ia bersembunyi di belakang tanaman blackberry.
Menurutku hal itu wajar, pasti sangat memalukan jika kau kedapatan sedang merangkak di siang hari.
Aku selalu mengunci pintu ketika merangkak di siang hari, Aku tidak bisa melakukannya dimalam hari karena ku tahu John akan mencurigaiku.
Apalagi sekarang ini John agak aneh, aku tidak mau mengganggunya. Ku harap Ia akan pindah ke kamar lain! Karena, Ku tidak ingin ada yang menangkap wanita itu selain aku.
Aku sering bertanya-bertanya apakah aku bisa melihat wanita itu keluar dari Jendela pada saat itu juga.
Tapi aku hanya bisa melihatnya keluar sekali saja, walaupun aku melihatnya, Ia mampu merangkak lebih cepat daripada aku membalikkan badan.
Aku pernah melihatnya di lapangan terbuka merangkak secepat bayangan awan yang dihembus angin.
Andai bagian atas wallpaper itu bisa dilepaskan dari bagian bawahnya, maksudku mencobanya. Aku menemukan hal lain yang lucu, tapi aku takkan mengatakannya kali ini.
Hanya tersisa dua hari lagi untuk melepaskan wallpaper ini dan aku yakin John mulai curiga padaku. Aku tak suka tatapannya.
Aku mendengar dia bertanya pada Jennie tentang keadaanku. Untungnya Jennie memberikan laporan-laporan yang baik tentangku.
Katanya aku tertidur cukup lama di siang hari.
John sadar kalau aku tidak tidur di malam hari sebab aku terlihat begitu tenang.
Ia menanyaiku beberapa pertanyaan, berpura-pura penyayang dan baik hati.
Aku tidak heran mengapa Ia bertingkah seperti itu; - berbaring di bawah wallpaper itu selama 3 bulan.
Hanya itu yang membuatku tertarik, tapi Ku yakin John dan Jennie mulai terpengaruh oleh wallpaper itu. Horre! Ini hari terakhir. John  berada di kota sampai malam.
Jennie ingin menemaniku tidur – aneh sekali. Tapi Ku katakan kalau Aku tidak apa-apa sendirian. Ide yang cemerlang, karena sebenarnya Aku tidak sendirian. Malam segera datang dan makhluk malang itu, Aku bangun dan berlari untuk membantunya keluar.
Aku menarik kertasnya dan Ia mengguncangkannya, Ku juga mengguncangkannya dan Ia menariknya. Sebelum pagi datang, kami telah merobek wallpaper itu beberapa yard.
Potongan kertasnya hanya tinggal setinggi kepalaku dan separuh ruangan ini. Saat matahari terbit, gambar itu mentertawakanku. Aku putuskan Ku harus segera menyelesaikannya hari ini.
Besok Kita akan pergi, dan mereka akan memindahkan barang-barangnya kebawah seperti sebelumnya. Jennie terkejut melihat tembok itu. Aku katakan padanya, aku merobek wallpaper itu karena ada yang ganjil dengan wallpapernya.

Ia tertawa dan berkata biarkan Ia saja yang melakukannya.
Tidak ada yang boleh menyentuh kertas itu selain Aku.


Jennie mencoba menyuruhku keluar dari kamar, Tapi kataku kamarnya begitu tenang sekarang dan Aku ingin tidur semampuku: dan tidak ingin dibangunkan bahkan untuk makan malam. Aku akan memberitahu jika aku terbangun.
Jennie telah pergi, begitu juga dengan pelayan-pelayan yang lain dan benda-benda di kamar ini sudah dipindahkan semuanya. Tidak ada yang tersisa kecuali hanya ranjang yang terpaku itu dan juga kasurnya.
Kami akan tidur di bawah malam ini dan akan pulang esok harinya.
Aku menyukai kamar ini, apalagi kamarnya kosong.
Bagaimana anak-anak itu mengigiti ranjang ini.
Ada banyak bekas gigitan di ranjang ini.
Aku harus segera kembali bekerja.                                    
Aku telah mengunci pintu dan melempar kuncinya ke jalan yang ada di depan kebun.
Aku tidak ingin keluar dan tidak ingin ada yang masuk hingga John pulang.
Aku ingin membuatnya terkejut.
Ada tali di sini, jika wanita itu keluar aku akan mengikatnya.
. Aku tidak bisa menjangkau kertas itu tanpa adanya tempat untukku berdiri, Ranjangnya tidak bisa digerakkan.
Aku mencoba mengangkat dan mendorong ranjangnya sampai hinggaku lelah. Disalah satu sisi Aku menggigitnya tapi malah membuat gigiku sakit.
Ku robek kertas itu sejauh yang mampu dicapai oleh tanganku. Gambar itu menempel begitu erat dan hanya menikmati robekanya. Gambar-gambar itu mentertawakanku sambil mencemooh.
Aku mulai putus asa. Melompat dari jendela memang latihan fisik yang bagus, tapi benturannya terlalu sakit saat menyentuh tanah.
Apalagi Aku tidak bisa melakukannya, karena Ku tahu itu tidak pantas.
Bahkan aku tidak ingin melihat keluar jendela. Karena ada begitu banyak wanita yang merangkak diluarsana, mereka merangkak cepat sekali.
Apakah mereka semua keluar dari wallpaper itu,sama sepertiku? Aku sudah benar-benar diikat oleh tali itu… kau tidak akan bisa mengeluarkanku.
Ketika malam datang, Aku harus kembali lagi kebelakang gambar itu.
Menyenangkan sekali berada di kamar ini dan merangkak sesukaku.
Aku tak ingin keluar sana bahkan jika Jennie meminta sekalipun, karena diluarsana kau harus merangkak di tanah yang keras dan kesemuanya itu hijau bukan kuning.
Akan tetapi disini aku bisa merangkak dengan mudah, di lantai, dan bahuku akan menabrak tembok itu jika terus merangkak, sehingga aku tidak akan tersesat.
Ada John di pintu!
Tidak ada gunanya, anak muda, Kau tidak akan bisa membukanya!
Ia memanggil namaku dan menggedor pintunya dengan keras.
Sekarang Ia berteriak meminta kapak!





[1] 4 juli merupakan libur nasional di amerika serikat dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Amerika Serikat 4 juli 1776
Reactions:

3 comments:

  1. Maaf ya kalau terjemahannya rada kacau, coz ini saya posting pas pertama kali belajar menerjemah di tahun tahun awal kuliah, mohon maklum, nanti aku revisi terjemahan ini

    ReplyDelete
  2. saya malah ga tau kalau tetjemahannya itu kacau., karena justru yang saya baca pertama kali adalah yang ini... hehe...

    ReplyDelete

Pengunjung Blog

Komentar Terbaru

My Blog Rank

SEO Stats powered by MyPagerank.Net

Advertisement

Translate

Popular Posts

Visitors

Total Pageviews

Powered by Blogger.

Followers

Google Followers