Tuesday, October 4, 2016


Raphael atau Israfil adalah salah satu sosok malaikat utama dalam tradisi tiga agama Abrahamik, Yahudi, Kristen, dan Islam. Dalam kepercayaan Yudeo-kristen, Rafael atau Israfil malaikat agung berada di tingkatan archangel (penghulu malaikat). Kata Raphael berasal dari bahasa Ibrani Rapha yang berarti “tabib” sehingga raphael bermakna “sang terang yang menyembuhkan” atau juga “ilah penyembuhan”. Dalam penggambarannya, ia sering dilukiskan dengan simbol penyembuhan , ular. Raphael ditugaskan untuk menjaga keamanan bumi dan penghuninya, dan dalam tradisi Kristen, ia merupakan salah satu dari malaikat yang paling ramah. Dia juga merupakan malaikat penghulu tertinggi disamping Michael, Gabriel, dan Uriel. 

Nama Raphael tidak disebutkan secara langsung dalam kitab kanonik; ia dikenal sebagai pembimbing dan guru dalam kitab apokrif Tobit. Dalam kitab itu, Rafael mengajarkan ilmu penyembuhan dan exorcism, pengusiran setan. Dia bertindak sebagai pemandu dan pendamping perjalanan, membuatnya dijuluki sebagai malaikat penjaga pengembara dan keamanan. Raphael memiliki banyak julukan dan tugas. Dia merupakan salah satu dari tujuh malaikat yang berdiri di hadapan Tuhan sebagaimana tersebut dalam kitan Revelation, dan termasuk dalam lima tingkat malaikat, Serafim, Archangel, Kerubim, Dominion,dan Powers. Dia merupakan malaikat angin malam, penjaga Pohon Kehidupan, malaikat kegembiraan, cahaya, dan cinta.

Dalam tradisi Kabbalah, Rafael ditugaskan untuk menyembuhkan bumi. Dia salah satu dai 10 Sefirot Pohon Kehidupan. Dia juga dipercaya sebagai salah satu dari tiga malaikat yang mengunjungi Ibrahim dan Lut. Selain itu, Rafael juga merupakan malaikat yang menyembuhkan luka khitan pada Abraham, dan luka paha Yakub. Menurut tradisi Rabinik (Mishnah), sebuah mutiara tergantung pada bahtera Nuh untuk menunjukkan siang dan malam, dikatakan bahwa permata itu berasal daro kitab suci yang diberikan kepada Nuh oleh Rafael, kita itu dijilid dengan safir dan berisi semua pengetahuan tentang perbintangan, penyembuhan, dan penguasaan kuasa gaib. Nuh mewariskan kitab ke Sem yang juga mewariskannya ke Ibrahim, Yakub, Lewi, Musa, Yosua,dan Sulaiman. Dalam Henokh 1 Rafel salah satu dari malaikat yang ikut menghukum Para Pengamat yang jatuh, Azazel dan kawan-kawan. Menurut Okultis Johannes Trithemius, Rafael adalah salah saru dari tujuh malaikat akhir zaman dan penjaga sefiroth suci. Dia juga dikatakan sebagai penguasa Kerubim dan Archangel bersama Zarachiel dia berkuasa atas Raquia atau langit kedua.

Rafael juga merupakan malaikat suci dalam Islam, dimana dikenal dengan sebuta Israfil.  Ia ditugaskan untuk meniup sebanyak tiga kali tiupan sangkakala pada hari kiamat.  Sangkakala atau sangka adalah sejenis alat tiup yang terbuat dari cangkang kerang. Alat tiup ini disebut sangkakala karena bernama sangka dan ditiup secara berkala atau bunyian berkala. Pada zaman dahulu sangkakala biasa digunakan dalam saat tertentu, seperti untuk meminta perhatian orang banyak, ketika hendak mulai berperang, mengumpulkan prajurit dan banyak lagi kegunaan sangkakala.
Ketika Allah telah selesai menjadikan alam semesta beserta isinya, lalu Allah membuat sangkakala dan meletakkannya di mulut Israfil. Kemudian dikisahkan Israfil selalu menatap kearah ‘Arsy, menanti kapan ia diperintahkan untuk meniup sangkakala tersebut.

Disebutkan pula dalam salah satu hadist, sangkakala itu bagaikan tanduk dari cahaya, dengan ukuran yang sangat besar dengan garis tengahnya seluas langit dan bumi (alam semesta). Dalam hadist lain dikatakan sangkakala malaikat Israfil terbuat dari tanduk, “Tanduk yang ditiup.”
Israfil selalu memegang terompet suci yang terletak di bibirnya selama berabad-abad, menunggu perintah dari Tuhan untuk meniupnya pada hari kiamat. Pada hari itu ia akan turun ke bumi dan berdiri di batu/ bukit suci di Jerusalem. Tiupan pertama akan menghancurkan dunia beserta isinya, tiupan kedua akan mematikan para malaikat dan tiupan ketiga akan membangkitkan orang-orang yang telah mati dan mengumpulkan mereka di Padang Mahsyar.

Ia dikatakan telah di kirim oleh Tuhan bersama malaikat utama yang lain, untuk mengumpulkan tanah dari empat penjuru dunia dan hanya Izrail saja yang berhasil dalam misi tersebut. Dengan tanah itulah Adam diciptakan. Di dalam kitab Tanbihul Ghofilin Jilid 1 hal. 60 ada sebuah hadits panjang yang menceritakan tentang kejadian kiamat yang pada bagian awalnya sangat menarik untuk dicermati.

Abu Hurairah ra berkata : Rasulullah saw bersabda :“Ketika Allah telah selesai menjadikan langit dan bumi, Allah menjadikan sangkakala (terompet) dan diserahkan kepada malaikat Isrofil, kemudian ia letakkan dimulutnya sambil melihat ke Arsy menantikan bilakah ia diperintah”. Saya bertanya : “Ya Rasulullah apakah sangkakala itu?” Jawab Rasulullah : “Bagaikan tanduk dari cahaya.” Saya tanya : “Bagaimana besarnya?” Jawab Rasulullah : “Sangat besar bulatannya, demi Allah yang mengutusku sebagai Nabi, besar bulatannya itu seluas langit dan bumi, dan akan ditiup hingga tiga kali. Pertama : Nafkhatul faza’ (untuk menakutkan). Kedua : Nafkhatus sa’aq (untuk mematikan). Ketiga: Nafkhatul ba’ats (untuk menghidupkan kembali atau membangkitkan).”




Sosok Azael telah lama dikenal sebelum ia muncul dalam tradisi tiga Agama Abrahamik, Yahudi, Kristen, dan Islam. Azazel merupakan raja Se’irim, iblis berwujud kambing, yang menghantui padang pasir dan kepadanya bangsa Semitik kuno mempersembahkan korban. Perjanjian lama mengatakan bahwa Jeroboam mengangkat seorang pendeta pelayan Se’irim pada masa pemerintahan Yosia kuil Se’irim ini dihancurkan karena praktik penyembahan Azazel semakin jauh dari nilai-nilai religius termasuk diantaranya ritual hubungan seks dengan kambing. Kata Se’irim juga muncul dalam Ulangan 17:7 dan 2 Tawarikh 11:5 dan Isaiah 34:13 dimana dikatakan Se’irim atau iblis berwujud kambing berjabat tangan dengan Lilith dan Iblis-iblis lainnya ditengah reruntuhan Edom.

Nama Azazel kemungkinan ditasrifkan dari kata “azaz” dan “el” bermakna Tuhan Yang Perkasa. Selain itu, beberapa ahli berpendapat Azazel berasal dari sosok dewa matahari Kanaan “Aziz” dan juga dewa padang pasir mesir Seth. Dikatakan dalam Ulangan 16:8, pada hari penebusan dosa Elohim memerintahkan Harun untuk menaruh dua kertas undian untuk dua ekor kambing, satu untuk Elohim dan satu lagi untuk Azazel. Kambing untuk Elohim dikorbankan sebagai korban tebusan, semantara Kambing Azazel dilepas ketengah padang pasir untuk menemuinya. Dari ayat Ulangan ini tampaknya bangsa Yahudi kuno meyakini Azazel sebagai sosok ragawi yang tinggal di tengah padang pasir, keyakinan yang kemungkinan dipengaruhi oleh suku semitik kuno tentang Se’irim.


Kitab Henokh mengaitkan sosok Azazel dengan kisah malaikat yang Jatuh. Dia merupakan kepala para Malaikat Pengamat yang  mencemarkan diri dengan perempuan manusia dan memperanakan Nefililm, raksasa, sehingga menimbulkan malapetaka di bumi. Mereka juga mengajarkan kepada manusia tentang rahasia-rahasia langit, cara membuat senjata, kosmetik, dan strategi perang. Malaikat di langit kemudian melaporkan Azazel kepada Yahweh karena kejahatannya mengungkapkan rahasia langit yang seharusnya tersembunyi dari manusia. Malaikat Rafael ditugaskan untuk menghukum Azazel dengan mengikatnya dan melemparkan ke balik kegelapan di dalam jurang begerigi cadas tajam, dan di sana dia akan dihukum hingga akhir zaman. Seluruh daratan bumi rusak karena perbuatan Azazel ini sehingga Tuhan membersihkannya dengan mengirim banjir besar pada masa Nuh.


Dalam kitab apokrif lain, Kitab Wahyu Ibrahim Azazel digambarkan dengan sosok burung najis yang mengerogoti korban Abraham. Selain itu kitab ini juga mengaitkan Azazel dengan Neraka. Ibrahim berkata kepadanya, “Semoga engkau menjadi bara api tungku bumi! Enyahlah Azazel menuju daratan tak terjamah dunia sebab itulah dirimu. Azazel juga sering dianggap sebagai sosok ular yang menggoda Hawa untuk mencoba buah terlarang.


Sosok Azazel juga muncul pada tradisi Islam dimana dia diyakini sebagi sosok Iblis sebelum pembangkannya. Dalam sebuah kitab karangan Imam al-Ghazali menyebutkan bahwa iblis itu sesungguhnya namanya disebut sebagai al-Abid (ahli ibadah) pada langit yang pertama, pada langit yang keduanya disebut az-Zahid. Pada langit ketiga, namanya disebut al-Arif. Pada langit keempat, namanya adalah al-Wali. Pada langit kelima, namanya disebut at-Taqi. Pada langit keenam namanya disebut al-Kazin. Pada langit ketujuh namanya disebut Azazil manakala dalam Luh Mahfudz, namanya ialah iblis.

Dia (iblis) lupa akibat urusannya. Maka Allah S.W.T telah memerintahkannya sujud kepada Adam. Lalu iblis berkata, “Apakah Engkau mengutamakannya daripada aku, sedangkan aku lebih baik darinya. Engkau jadikan aku dari api dan Engkau jadikan Adam dari tanah.”
Lalu Allah S.W.T berfirman yang maksudnya, “Aku membuat apa yang aku kehendaki.” Oleh karena iblis memandang dirinya penuh keagungan, maka dia enggan sujud kepada Adam A.S karena bangga dan sombong.

Dia berdiri tegak sampai saatnya malaikat selesai bersujud. Ketika para malaikat mengangkat kepala mereka, mereka melihat iblis tidak sujud sedang mereka telah selesai sujud. Maka para malaikat bersujud lagi untuk yang kedua kalinya karena bersyukur, tetapi iblis tetap angkuh dan enggan untuk bersujud. Dia berdiri tegak dan memalingkan wajah dari para malaikat yang sedang bersujud. Dia tidak ingin mengikuti mereka dan tidak pula dia merasa menyesal atas keengganannya.


Kemudian Allah S.W.T merubahkan mukanya(iblis) pada asalnya yang sangat indah cemerlangan kepada bentuk seperti babi hutan. Allah S.W.T membentukkan kepalanya seperti kepala unta, dadanya seperti daging yang menonjol di atas punggung, wajah yang ada di antara dada dan kepala itu seperti wajah kera, kedua matanya terbelah pada sepanjang permukaan wajahnya. Lubang hidungnya terbuka seperti cerek tukang bekam, kedua bibirnya seperti bibir lembu, taringnya keluar seperti taring babi hutan dan janggut terdapat sebanyak tujuh helai. Setelah itu, lalu Allah mengusirnya dari syurga, bahkan dari langit, dari bumi dan ke beberapa jazirah. Dia tidak akan masuk ke bumi melainkan dengan cara sembunyi. Allah S.W.T melaknatnya sehingga ke hari kiamat karena dia telah menjadi kafir.

Monday, October 3, 2016

RHADAMANTHUS, MINOS and AIAKOS

RHADAMANTHUS, MINOS and AIAKOS (Aeacus) merupakan hakim bagi orang mati di dunia bawah, pelayan Hades. Mereka pada mulanya sosok manusia, putera-putera Zeus, yang diberi anugerah di dunia bawah untuk menghakimi manusia. Rhadamantus adalah putra Zeus dan Eropa dan saudara Raja Minos dari Kreta. Menurut sumber lain, ia merupakan putera dari Hephaestus. Karena takut akan saudaranya yang lalim, Rhadamantus melarikan diri ke Ocaleyia di Boeotia dan menikah dengan Alcemen. Karena ia selalu menjalankan keadilan seumur hidupnya, dia diangkat menjadi penguasa padang Elysia setelah kematiannya. Aiakos adalah putera dari Zeus dan Aegina, putri dewa sungai Asopus. Dia dilahirkan di Oenopia, tempat persembunyian Aegina oleh Zeus untuk mengamankannya dari murka Asopus. Setelah kematiannya, Aecus menjadi salah satu dari tiga hakim orang mati di Hades. Mereka masing-masing memiliki tugas berbeda. Aiakos merupakan penjaga kunci Haides dan menghakimi manusia-manusia Eropa, Rhadamanthys, penjaga Elysion (padang Elysia) dan menghakimi manusia-manusia dari Asia, dan Minos merupakan hakim terakhir yang memutuskan takdir manusia di dunia bawah.

ACHERON


Merupakan perwujudan dan dewa sungai dunia bawah. Dalam geografi kuno, kata acheron digunakan untuk menamai beberapa sungai. Sungai pertama dengan nama ini adalah Acheron in Thesprotia Epirus, negeri yang diyakini oleh orang Yunani Kuno sebagai batas terujung dunia sebelah barat sehingga sungai ini dipercaya bermuara di alam bawah. Homer dalam puisinya menuturkan acheron merupakan sungai di Hades (dunia bawah) dimana Pyrphlegetion dan Cocytus mengalir. Virgil mengatakan sungai ini merupakan sungai besar di Tartarus. Menurut tradisi Yunani selanjutnya, Acheron diyakini sebagai putra dari Helios dan Gaia atau Demeter, dan diubah menjadi sungai dunia bawah untuk menyegarkan dahaga para titan setelah berperang dengan Zeus. Bangsa Etruska juga mempraktikan keyakinan atas Acheron, dapat dilihat dari kultus Acheruntivi libri, penubahan jiwa-jiwa dan upacara korban (acheruntia sacra) yang juga terpengaruh oleh sosok acheron.


KHARON 


Kharon merupakan nahkoda kapal penyebarangan dunia bawah pelayan Hades. Menurut agama Yunani Kuno, Hermes Pyskhopompos (Pembimbing Kematian) mengumpulkan roh-roh orang mati dari dunia atas dan memandu mereka menuju tepi sungai Acheron dan di sana Kharon akan menunggu untuk menyebrangkan mereka menuju Haides. Ia akan meminta koin oblos yang dikubur bersama mayat sebagai bayaran untuk menyebrang. Mereka yang tidak punya koin tidak boleh menyebrang dan akan kembali ke dunia sebagai hantu. Kharon dilukiskan dalam tradisi Yunani dengan sosok berjenggot dan berhidung bengkok mengenakan topi runcing dan tunding. Dia sering digambarkan berdiri diatas kapalnya dengan tongkat menunggu kedatangan roh yang dipandu oleh Hermes Psykhompompos. 


KRONOS


Merupakan raja Titan dan penguasa waktu, selain itu dia juga diyakini sebagai daya penghancur semesta. Kronos menguasai semesta pada masa-masa keemas setelah ia mengibiri dan membunuh ayahnya Uranus (Langit). Takut akan ramalan akan dikalahkan oleh puteranya, Kronos memakan semua anaknya. Rhea berhasil menyelamatkan anak bungsunga Zeus dengan menyembunyikannya di pulau Kreta. Beranjak dewasa, Zeus bertarung dengan Kronos dan membebaskan saudara-saudaranya yang telah ia telan. Bersama dengan mereka, para dewa Olympus, Zeus berperang melawan para titan dan memenjarankan mereka ke Tartarus. Berabad-abad berikutnya, Zeus melepaskan Kronos dan titan-titan lain. Kronos kemudian diangkat menjadi Raha di Pulau padang Elysia, tempat kedamaian bagi orang-orang mati (surga)


ERINYES


Erinyes (Murka) merupakan tiga dewi dendam dan siksaan yang ditugasi untuk menyiksa manusia karena kejahatan mereka. Di dunia bawah, dewi ini menghukum dosa bunuh diri, kedurhakaan pada orang tua, perbuatan menentang dewa, dan penipuan. Korban yang terzalimi bisa memanggil Erinyes untuk memberikan kutuk terhadap orang yang menjahatinya. Kutukan Erinyes yang paling kuat adalah ketika digunakan orang tua mengutuk anaknya—sebab Erinyes terlahir dari kejahatan tersebut, dari tetesan darah Uranus ketika dia dikebiri oleh Kronos. Murka Erinyes mewujud dalam beragam bentuk. Yang paling parah adalah mereka akan menyebabkan anak-anak durhaka menjadi gila serta orang yang membantu mereka akan mati karena kelaparan dan penyakit. Kutuk ini bisa dibersihkan dengan ritual tertentu dan tindakan tertentu penebusan dosa. Di dunia bawah, mereka menyiksa para penjahat di Aula Orang Orang Berdosa.


HEKATE


Sosok dewi sihir, ilmu sihir, malam, bulan, dan nekromansi (pemanggilan roh). Dia putri tunggal dari Titan Perses dan Asteria. Hekate membantu Demeter mencari Persephone, membibingnya membelah gelap dunia bawah dengan obornya. Karena pertolongannya ini, Hekate ditunjuk menjadi mentri dan pendamping Persephone di dunia bawah. Hekate digambarkan dengan sosok wanita memegang dua obor terkadang mengenakan rok selutut dengan bot berburu seperti Artemis. Dalam kuilnya, Hekate digambarkan dengan wujud tiga bentuk. Hekate juga disamakan dengan sosok dewi-dewi lain, Artemis dan Selene dari Yunani, Despoine dari Arkadia, dewi laut Krateis, Tauria, Persesi dari Kolhia dan sebagainya.

Kata ba’al berasal dari bahasa semit yang secara harafiah bermakna “pemilik, tuan, suami,”. Kata ini kemudian digunakan untuk merujuk pada sosok dewa agung cuaca bangsa semitik barat. Sosok ilahiah yang pertama kali disembah oleh bangsa semit adalag dewa El sang pencipta. Bersama dengan dewi Asyerah, dewi kesuburan, El menurunkan banyak dew-dewa laon salah satunya Baal yang perkasa. Dalam sejarah perjalannanya, sosok Baal menjadi sosok ilahian yang dominan dan menggantikan kultus penyembahan terhadap El. Dalam tradisi semitik kuno diceritakan bahwa Baal memperoleh kedudukan sebagai dewa agung setelah dia mengalahkan banyak dewa lainnya, termasuk dewa laut, dewa badai, dan dewa maut. Perperangan Baal melawan kematian diyakini terjadi setiap tahun dan berakhir dengan kemenganannya membawa hujan untuk kembali menyuburkan bumi. Baal digambarkan dengan sosok manusia bekepala dan bertanduk kerbau seperti yang digambarkan dalam tradisi alkitabiah. Tangan kanannya terkadangan dilukiskan terangkat dan memegang kilat guntur, menggambarkan kekuatannya sebagai dewa kesuburan dan dewa kehancuran.
Dalam lempengan kuno Ugarit dikatakan bahwa kultus penyembahan Baal berkembangan hingga ke wilayah Israel kuno, Kanaan, dan Funisia. Selain itu, menurut catatan Herodotus, sosok dewa ini juga dikenal dengan banyak nama Jupiter oleh orang Romawi, Zeus oleh bangsa Yunani, Mazda oleh bangsa Persia, dan Amon oleh bangsa Mesir. Para pengikutnya meyakini Baal bertanggung jawab atas kekeringan, gempa bumi, dan kemalangan-kemalangan lainnya. Oleh karena itu membuat dewa ini tidak senang merupakan hal yang tidak baik. Pada masa-masa paceklik, terkadang kurban manusia juga dipersembahkan untuk menyenangkan hatinya.
Karena bangsa Funisia merupakan pelaut yang tangguh, agama dan kultus Baal berkembang pesat di seluruh wilayah Mediterannia. Tradisi Biblikan mengisahkan sepuluh suku Israel kuno menyembah dewa ini. Patung Baal didirikan di banyak tempat. Agama ini melahirkan banyak pendeta dengan upacara-upacara yang aneh termasuk diantaranya upacara bakaran dupa diiringai dengan tarian erotis para pendeta di altar suci kuil merapalkan mantra puja sambil melukai tubuh mereka dengan pisau untuk menggambarkan kesetiaan kepada Baal. Alkitab menempatkan Baal sebagai Beelzebub, salah satu sosok Malaikat yang jatuh.
Raja Ahab merupakan sosok raja israel pengikut Baal yang taat. Atas pengaruh istrinya, Jezebel, dia mendirikan altar suci Baal ditengah orang-orang Israel bahkan mengorbankan putra sulungnya Abiram dan putra bungsunya Segub untuk Baal. Pengorbanan putra sulung merupakan ritual ibadah yang umum dalam tradisi Kanaan dengan tujuan untuk menyenangkan hati dewa pelindung wilayah tempat itu. Tubuh-tubuh kurban manusia ini kemudian dikubur di bawah pondasi gerbang kota.
Bahkan pada awal pembangunan wilayah Kartagia, koloni bangsa Funisia, Para orang tua mengorbakan anak-anak mereka untuk Baal. Praktik pengorbanan ini menimbulkan kejijikan bagi orang-orang Kartagia, sehingga mereka membeli anak-anak budak untuk menjadi korban kultus Baal.
 Akan tetapi, pada waktu-waktu tertentu terutama di masa-masa sulit, Pendeta akan mengambil korban manusia dari anak-anak mereka. Pada masa-masa krisis yang berat korban manusia untuk Baal bisa mencapai 200 anak dari keturunan bangsawan dan orang kaya, mereka disembelih lalu dilempar kedalam api oleh para pendeta, praktik yang juga ditemukan dalam kultus Moloch. Pada masa krisis politik tahun 310 SM, 500 anak dikorbankan untuk menyenangkan Baal. Pada malam purnama, tubuh-tubuh mereka diletakan diatas pangkuan Baal yang terbuat dari perunggu. Pendeta kemudian menyalakan api dari bawah patung dan membakar korban hidup-hidup. Korban bakaran ini diiringi dengan dentuman tabuh, serunai dan lira untuk menyamarkan suara teriakan kesaiktan korban yang dibakar  sehingga tidak terdengar. Abu korban kemudian ditaruh dalam pasu dan diletakkan di pemakaman Acropolis. Praktik serupa juga ditemukan di Sardinia dan Sisilia.

Wednesday, September 14, 2016

Beelzebub juga disebut dengan Ba‘al Zebûb atau Ba‘al Zəvûv (בעל זבוב) pada mulanya adalah sosok ilahi yang disembah di wilayah Palestina tepatnya di Ekron. Tidak ada banyak informasi mengenai sosok dewa beserta kultusnya ini, dan kata בעל זבוב muncul sebagai variasi Bahasa Ibrani dengan makna “Tuhan Lalat”. Awalnya, kata ini kemungkinan merujuk pada “Tuhan Tempat Tinggi (Zebul) atau tuhan penguasa suatu tempat Zebub. Istilah ini kemudia muncul dalam tulisan-tulisan kristiani untuk merujuk kepada sosok iblis. 

Dalam tradisi perjanjian lama, Raja Israel Ahazaia meminta tolong kepada BaalZebub, dewa Ekron, untuk menyembukannya dari cedera terjatuh. Nabi Elia kemudian mengutuknya karena tindakanya ini. Dalam tradisi Perjanjian Baru diungkapkan, Yesus dituduh oleh para penentangnya sebagai pengikut Beelzebub, “pangeran iblis”. Selanjutnya dalam periode sastra pertengahan, Beelzebub kemudian diyakini sebagai sosok kepala iblis di Neraka terkadan disamakan dengan setan. Sosok ini juga sering dikaitkan dengan ritual sihir dan penyebab kekacauan di Salem. (Salem witch trials).

Sumber Alkitabiah terawal mengenai Beelzebub terdapata dalam 2 Raja-Raja 12:6 dengan munculnya nama Ba’al Zebub. Diceritakan bahwa Ahazia raja Israel dan Ratunya Jezebel cedera parah setelah terjatuh. Mereka mengirim utusan untuk memohon kepada Ba’al Zebub dewa kota Ekron Palestine untuk memberi mereka kesembuhan. Mendengar kabar ini, Nabi Elia marah besar dan mengutuk Ahazia sebab berpaling dari Yahweh. 

Jika kata Ba’al Zebub pada mulanya merujuk pada “Penguasa Lalat”, alasan utama Ahazia meminta pertolongan padanya kemungkinan untuk menyingkirkan lalat-lalat yang terus mengerumuni luka cederanya. Dewa yang sama dalam artian penguasa lalat juga dipuja di Elis Yunanu dan pada beragam kebudayaan lainnya. Meski demikian, kata Baal Zebub kemungkinan memiliki makna “Penguasa Zebub” merujuk pada sebuah tempat karena frase serupa juga ditemukan dalam ayat perjanjian lama lain contoh Baal Peor yang berarti penguasa Peor. Selain itu muncul juga anggapan bahwa Ba’al zebub berarti Penguasa Tempat Tinggi, sosok ilahi yang dipuja pada kuil-kuil dipuncak bukit atau gunung.

Sosok Beelzebub yang sebelumnya merupakan sosok ilahi mengalami pergeseran drastis dalam tradisi perjanjian baru dimana nama ini sering dikaitkan dengan sosok setan. Kemungkinan peralihan ini merupakan pengaruh dari sumber tradisi Yahudi yang tidak diketahui asal-usulnya yang memberikan julukan pangeran iblis kepada Beelzebub. Kata Beelzebub digunakan juga dalam terjemahan Suryani Alkitab dan Latin Vulgata untuk merujuk pada sosok setan, sama halnya dengan Alkitab King James version. Dengan demikian, peralihan Beelzebu ke sosok setan berkembang biak di wilayah-wilayah dominasi kristiani. 

Beelzebu juga ditemukan dalam karya-karya apokrif. Pada kitab perjanjian Sulaiman Beelzebul muncul sebagai sosok pangeran iblis yang mengatakan bahwa sebelum kejatuhannya dia merupakan sosok malaikat surga mengurus bintang Hesperus, nama Yunanu untuk Venus, bintang fajar. Kutipan ini berhubungan juga dengan sosok Lucifer yang juga dijuluki bintang fajar. Dengan demikian, dugaan kesamaan sosok Beelzebul dengan iblis atau setan semakin kuat. Dalam tulisan itu, Beelzebul mengaku sebagai penyebab kehancuran melalui tirani, menggoda manusia memuja iblis, membangkitkan perasaan birahi pada para pendeta, menyebabkan kecemburuan dan pembunuhan, dan membawa peperangan. Dalam surat-surat pilatus atau dikenal juga dengan Injil Nikodemus, Beelzebul atau Beelzebub muncul setelah Yesus mengendalikan Pangeran Setan dan mengusirnya kembali ke Neraka. Dengan demikian, nama Beelzebul digunakan juga untuk Hades—personifikasi dunia bawah—sekaligus untuk julukan setan.

Pada karya-karya kristiani berikutnya, Beelzebub biasanya digambarkan sebagai sosok penguasa neraka. Dia diyakini berasal dari order malaikat Kerubim sebelum kejatuhannya. Menuru Okutis Johanees Wierus, Beelzebub merupakan letnan pemimpin ketika terjadi pemberontakan Lucifer di surga. Selain itu, Beelzebub juga ditempatkan sejajar dengan tiga malaikat utama yang jatuh yaitu Lucifer dan Leviathan, dimana dia dikaitkan dengan dosa kesombongan dan keserakahan. Dalam karyanya, Paradise Lost, Milton menempatkan Beelzebub sebagai tingkat dua Kerubim yang jatuh. Dia menulis, dari dia kecuali setan (Lucifer) memiliki tempat tertintinggi. Sosok ini juga dibentuk untuk menistakan trinitas agung yanitu Beelzebub, Lucifer, dan Astaroth. Pendeknya, sepanjang perjalana sejarah dan penafsiran manusia sosok Beelzebub yang sebelumnya merupakan sosok suci ilahi sembahan bangsa Palestina berubah menjadi sosok Iblis nista neraka.
Buku/Kitab sihir yang juga dikenal dengan sebutan Grimoire memberikan pedoman bagi para pelajar sihir tentang ritual sihir, perapalan mantra, ilmu pengasihan, pencarian Familiar (Jin Pendamping/Khadam), dan tatacara pemanggilan serta pengendalian makhluk gaib, baik iblis maupun malaikat. Kata Grimoire sendiri berasal dari bahasa Perancis, yang artinya “grammar book”. Materi isi dalam kitab sihir itu umumnya dinukil dari tradisi sihir dan mistik Ibrani/Israilliyat Kuno, termasuk nama-nama yang digunakan, kuasa gaib, tugas para makhluk gaib, dan nama-nama sakti Yahweh. Selain itu, sumber-sumber mistik dan sihir dari tradisi Yunani dan Mesir Kuno juga memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap muatan isi Grimoire yang kebanyakan ditulis dan beredar pada abad pertengahan hingga abad 19.
Para pelaku sihir menggunakan grimoire untuk ritual pemanggilan makhluk gaib untuk dimintai tolong, pembacaan pergerakan benda-benda langit untuk tujuan tertentu, kekayaan, keberuntungan, kekuatan gaib, menyakiti musuh, dan sebagainya. Kitab itu memberikan pedoman kepada para pelaku sihir pakaian ritual apa yang harus mereka kenakan, peralatan apa yang mesti digunakan, bagaimana tatacara penyucian diti, dan mantra dan doa apa yang perlu dirapalkan diikuti dengan waktu yang paling tepat untuk melakukannya berdasarkan hitungan astrologis, pergerakan jam siang dan malam, dan ruh gaib penguasa waktu. Di dalamnya juga terdapat bahan-bahan untuk dupa, bentuk lingkaran sihir, segitiga gaib, pentakel, jimat, segel dan sigil, instruksi pemberian tumbal/sesajen, dan cara menghadapi ruh gaib yang jahat termasuk ritual Exorcisme, pengusiran setan.

Kitab Sihir Sulaiman (Key of Solomon)


Terdiri atas dua buku, kitab sihir ini diatribusikan kepada Nabi Sulaiman, yang meminta kepada Tuhan agar dianugerahkan kebijaksanaan dan kekuatan untuk mengendalikan pasukan jin. Kitab ini menjadi sumber bagi kebanyakan kitab serupa lainnya. Pada abad 1 M, sejarawan Yahudi Josephus menyebutkan adanya sebuah buku mantra untuk memanggil dan mengendalikan jin, yang diyakini berasal dari Sulaiman. Josephus mengatakan seorang Yahudi bernama Eleazar menggunakannya untuk menyembuhkan orang yang sedang kerasukan. Akan tetapi, sejarawan modern meyakini kitab yang dimaksud bukanlah kitab Key of Solomon melainkan kitab apokrif Perjanjian Sulaiman (Testament of Solomon). Kitab sihir beredar luas dan sepanjang waktu isi dan ukurannya semakin bertambah sehingga banyak versi bermunculan dan teks aslinya sudah tidak diketahui lagi. Semenjak abad 14, karya sihir yang diatributkan kepasa Sulaiman ini semakin memiliki pengaruh luas dalam kehidupan abad pertengahan sehingga sekitar tahun 1350, Paus Innocent VI memerintahkan agar semua Kitab Sihir yang berhubungan dengan Sulaiman ini dibakar karena dianggap berbahaya. Pada abad 17, kitab ini kembali beredar luas dalam beragam versi. Banyak yang menganggap naskah asli kitab ini ditulis dalam Bahasa Ibrani, namun sampai sekarang bukti yang mendukung anggapan ini tidak ditemukan.

Lemegeton

Grimoire lain yang juga diatributkan kepada Sulaiman adalah Legemeton atau juga dikenal dengan The Lesser Key of Solomon. Asal dan makna kata Lemegeton tidak diketahui hingga saat ini. Kitab ini juga disebut dengan nama Liber Spirituum dan Liber Offi ciorum. Beberapa menduga kitab ini pada mulanya ditulis dalam Bahasa Kaldea dan Ibrani, tapi dugaan ini diragukan kebenarannya. Tulisan terawal dari Lemegeton ditemukan dalam bahasa Perancis yang muatan isinya kemungkinan dinukil dari Perjanjian Sulaiman dan Kitab Henokh. Sebagian dari isi Lemegeton diterbitkan dalam bahasa Latin oleh demonologis Johan Weyer pada 1563 dengan judul Pseudomonarchia Daemonum (Pseudo-monarkis para iblis). Tahun 1584, Reginal Scott menerjemahkan sebagian isi Lemegeton dalam bukunya Sejarah Penemuan Sihir. Kitab sihir ini dibagi menjadi empat bagian: Goetia, Theurgia, Pauline Art, dan Almadel. Goetia membahas tentang ruh-ruh jahat. Theurgia membahas tentang ruh baik dan ruh jahat. Sementara itu, Pauline Art membahas tentang ruh-ruh gaib penjaga planet, tanda zodiak, dan jam-jam siang dan malam. Almadel membahas tentang 20 pemimpin ruh gaib penguasa empat mata angin dan lingkaran zodiak. Selain itu, kitab sihir ini juga memuat daftar 72 malaikat yang jatuh beserta gelar, segel, tugas, kekuatan dan malaikat lawan mereka. Munculnya jumlah 72 ini diyakini terpengaruh oleh doktrin Schemhamphorae, 72 malaikat pemikul Nama Agung Elohim.

Perjanjian Sulaiman

Kitab perjanjian sulaiman termasuk kedalam kategori kitab apokrif ditulis dalam Bahasa Yunani antara abad 1 dan 3 Masehi. Kitab ini mengisahkan pembangunan Bait Agung Yerusalem dimasa Sulaiman. Muatan isinya sarat akan demonologi, angelologi, dan tradisi mengenai pengobatan, astrologi, dan magis. Penulis kitab ini diyakini mendapat pengaruh dari Talmud Babilonia. Menurutnya, bintang-bintang dan benda luar angkasa memiliki hakikat demonik, mempengaruhi perjalanan hidup manusia, serta diperintah oleh iblis yang bisa menyebabkan kemalangan dan penyakit bagi manusia bumi. Kitab perjanjian ini memiliki andil besar dalam munculnya legenda kekuatan sihir Sulaiman. Akan tetapi, Kitab ini tidak memuat petunjuk praktis tentang pemanggilan maupun penatalaksanaan ritual magis.

Grand Grimoire (Grimoire Agung)

Kitab sihir berbahasa Perancis ini kemungkinan ditulis pada abad 17 atau 18. Edisi terawal dari tulisan magis ini tidak memiliki informasi tentang tempat dan tanggal penerbitannya. Salah satu versi dari Grand Grimoire ditemukan berasal dari tahun 1522 dengan judul lengkapnya Grimoire Agung, dengan Lingkaran Sakti Sulaiman dan Sihir Hitam; atau Perlengakapan Magis Agrippa Agung untuk Menemukan Harta Tersembunyi dan Penundukan Kuasa-kuasa Gaib, Dilengkapi dengan Ringkasan semur Ilmu Sihir. Editor, Venetiana del Rabina, mengatakan tulisan ini merupakan terjemahannya dari karya Sulaiman yang dia miliki. Grand Grimoire merupakan kitab sihir hitam dengan iblis tertingginya sama dengan dalam Grimoriun Verum berikut dengan bawahannya. Buku ini memiliki petunjuk praktis untuk ritual persekutuan antara penyihir dengan Lucifuge Rofocale, sosok mentri agung Lucifer, yang hanya muncul dalam grimoire ini saja. Nama akhirnya, Rofocale, kemungkinan anagram dari Focalor, sosok iblis yang muncul dalam Lemegeton. Dalam grimoire ini juga ditemukan petunjuk untuk ritual nekromansi, pemanggilan roh.

Grimoriun Verum

Dinukil dari Greater Key of Solomon dan ditulis dalam Bahasa Perancis, kitab sihir ini kemungkinan berasal dari pertengahan abad ke 18. Dalam perkembannya, muncul spekulasi bahwa Grimorium Verum diterjemahkan dari Bahasa Ibrani oleh pendeta Yesuit bernama Plaingiere dan diterbitkan oleh Alibeck dari Mesir tahun 1517. Grimorium Verum umumnya menyalin ulang petunjuk ritual magis dalam Key of Solomon namun menggunakan peralatan yang berbeda mengenai persiapan gulungan parkamen, pemanggilan, dan pengusiran sosok gaib. Selain itu, tulisan ini memuat hirarki iblis yang berbeda dengan jumlah 30 tingkat dibawah komando 3 pemimpin iblis, Lucifer, Beelzebub, dan Astaroth. Muatan dalam grimoire juga menunjukan pengaruh dari Lemegeton terutama mengenai “Rahasia Agung” pseudo Albertur Magnus.

Grimoire Honorius

Juga dikenal dengan Undang-undag Honorius, teks sihir ini kemungkinan ditulis pada abad 16 namun diterbitkan pertama kali di roma tahun 1629 dan menyebar luas abad ke 17. Grimoire Honorius diatribusikan kepenulisannya kepada Paus Honorius yang juga dikenal sebagai pencetus ritual exorcisme. Buku ini menunjukan pengaruh dari Lemegeton dan menyatakan ditulis berdasarkan praktik Kabalah, tapi hubungannya dengan kabalah sangat ganjil. Sebaliknya, kitab sihir ini lebih banyak memuat elemen kristiani. Teks ini dianggap sebagai tulisan paus dimana dia menitahkan otoritas gereja harus memiliki kekuasaan untuk memanggil dan mengendalikan sosok-sosok gaib. Kekuatan ini telah diwariskan kepada gereja sebagai pelanjut dari st. Petrus.
Ritual yang dimuat menggabungkan eleme kabalah seperti 72 nama suci Yahweh dengan elemen kristian seperti pengakuan dosa, litani, jemaat suci, malaikat, Injil Yohanes dan doa suci diikuti dengan pengorbanan darah binatang, yang membuatnya lebih tampak seperti Misa Hitam. Edisi 1670 Honorius memuat petunjuk pelakasanaan exorcisme bagi manusia dan hewan. Dengan kedudukannya sebagai teks magis, tulisa ini dianggap tidak memiliki fondasi teologis yang kuat dan ditulis untuk kepentingan komersial.

Tuesday, February 23, 2016



Aphrodite sosok dewi kecantikan, keindahan, asmara, kenikmatan seksual, dan kesuburan bangsa Pagan Yunani . Dalam jajaran pantheon Romawi Kuno, sosok ini disebut dengan dewi Venus. Menurut sejarahnya, sosok dan kultus Aphrodite diambil atau terpengaruh dari kultus Astarte di Funisia. Menurut Theogoni Hesiod, Aprodhite terlahir dari potongan penis Uranus yang dilempar ke laut, dan dari buih lautan (aphros) lahirlah sanga Aphrodite. Dengan demukian, sosok dewi ini jauh lebih kuno dan tua dari Zeus, yang merupakan cucu dari Uranus.

Aphrodite dengan kecantikannya membuat para dewa khawatir terganggunya kedamaian di antara mereka untuk memperebutkan sang dewi. Untuk mencegah hal ini. Zeus menikahkan Aphrodite dengan Hephaestus. Dalam sejarahnya, Aphrodite memiliki banyak sekali kekasih baik dari kalangan dewa seperti dewa perang Ares maupun kalangan manusia seperti Anchises. Karena banyaknya kekasih yang dia miliki, Aphrodite dipercaya memiliki banyak keturunan.
Aphrodite juga dikenal dengan julukan Cytherea (Lady of Cythera) dan Cypris (Lady of Cyprus. Munculnya julukan ini akibat berkembangnya kultus Aphrodite di wilayah tersebut, wilayah yang juga mengklaim sebagai tempat kelahiran bagi sang dewi. 


Sosok Aphrodite juga berkaitan erat dengan sosok dan kultus Adonis, dewa kesuburan yang kematianya diperingati dengan festival ratapan diberagam wilayah mediterania dan semitik barat hingga funisia. Dikatakan bahwa Aphrodite merupakan kekasih Adonis sekaligus sosok yang memiliki peran dalam kelahirannya. Aphrodite membujuk Myrrha atau Smyrna untuk melakukan incest dengan ayahnya, Theias, Raja Assyria. Saat Theia mengetahui hal ini, dia sangat murka dan berusaha membunuh putrinya. Akan tetapi, para dewa mengubag sang putri menjadi pohon myrrh, dan dari pohon inilah Adonis muncul dan lahir.

Ketika Adonis terlahir langsung dalam sosok dewasa, Aphrodite mengasuhnya dan menggodanya dengan bantuan Helen, temannya, karena sang dewi terpesona akan ketampanan Adonis. Aphrodite menitipkan Adonis kepada Persphone untuk dijaga, namun Persephonr juga terpesona akan ketampanannya dan tidak mau mengembalikannya kepada Aphrodite. Untuk mencegah peperangan diantara kedua dewi, Zeus atau Calliope mendamaika mereka dan memerintahkan Adonis akan tinggal empat bulan bersama Aphrodite, empat bulan bersama Persephone, dan empat bulan lainnya ia bisa memilih untuk tinggal dengan siapa. Dia selalu memilih tinggal bersama Aphrodite karena Persephone merupakan sosok dewi alam bawah yang dingin dan tidak ramah.

Kehidupan Adonis berakhirnya dengan terbenuhnya dia akibat kecemburuan Ares, dewa perang dan kekasih lain Aphrodite. Aphrodite diperingatkan akan kecemburuan ini dan diberitahu bahwa Adonis akan terbunuh oleh sosok banteng atau babi hutan jelmaan Ares. Ia berusaha membujuk Adonis untuk tetap tinggal bersamanya, namun kecintaan Adonis akan berburu menyebabkan petakanya. Saat tengah berburu, babi hutan jelmaan Ares menemukannya dan menusuknya dengan tanduknya hingga Adonis mati.

Dijuluki “Yang Bangkit dari Buih Samudera, Aphrodite terlahir dari laut dekat Paphos, Cyprus dari ceceran darah dan sperma potongan penis Uranus yang dibuang ke laut tersebut. Aphrodite langsung terlahir dalam sosok dewasa. Dalam Buku V Iliad, Homer menuturkan versi berbeda mengenai asal usul Aphrodite. Menurutnya, Aphrodite merupakan putri dari Dione, dewi peramal yang juga merupakan sosok Dewi Diana di Dodona.

Kultus pemujaan Aphrodite berpusat di Paphos, pesisir timur laut Cyprus tempat kelahirannya, tempat yang juga penduduknya telah lama memuja sosok dewi Ishtar dan Ashtaroth, dua sosok dewi yang juga berpengaruh telah hadirnya sosok dan kulyus Aphrodite. Dikatakan bahwa sosok dan kultusnya pertama kali muncul di Cytherea, tempat persinggungan perdagangan dan budaya antara Kreta dan Peloponous. Dari spekulasi ini, beberapa meyakini sosok dan kultus Aphrodite kemungkinan berasal dibawa dari daratan Levant, Lebanon Syria Israel dan Jordan kuno menuju daratan utama Yunani.

Festival sucinya, Aphrodisia diperingati di seluruh wilayaha Yunani, terutama di Athena dan Korintus. Peringatan festival ini di kuil Aphrodite dirayakan dengan ritual hubungan seksual dengan pendeta wanita tertinggi kuil. Ritual ini kemungkinan juga terus dilakukan di Agora hingga kedatangan bangsa Romawi 44 SM.

Salah satu aspek penting dari kultus Aphrodite adalah praktik pelacuran suci di kuil-kuilnya. Praktik pelacuran sucinya berasal dari praktik pemujaan Innana di Sumeri dan Ishtar di Akadia, yang kuilnya juga dihuni oleh pendeta wanita sekaligus bekerja sebagai pelacur suci dikenal dengan “Wanita-wanita Ishtar”. Praktik yang sama juga ditemukan di Babilonia, Syria, Palestina, Funisia, Carthagia, Cyprus dan Korintus.

Monday, February 22, 2016

Adonis (Bahasa Yunani Άδωνης, juga: Άδωνις) sosok suci surgawi berasal dari tradisi Semitik Barat, dimana dia merupakan tokoh utama dalam beragam kultus dan ritual pemujaan Agama Misteri. Sosok dan tradisi pemujaan Adonis ini masuk kedalam tradisi dan agama Yunani pada periode Helenistik. Gambaran sosok Adonisi diyakini dipengaruhi  oleh sosok dewa Osiris Mesir, Tammuz dan Baal Hadan Kanaan, Atunis Etruks, Atiis Phyrgia, yang kesemuanya merupakan dewa kebangkitan dan kesuburan.

Dalam tradisi Mediterania termasuk Yunani, Adonis dipuja sebagai dewa kemudaan yang selalu mengalami siklus kematian dan kebangkitan sepanjang tahun. Kultus pemujaan Adonis umumnya diikuti oleh kaum wanita: kultus kematian Adonis yang diperingati dengan ratapan kematiannya oleh para wanita berkembang pesat di wilayah Lesbos, sekitar tahun 600 SM, sebagaimana tertera dalam Puisi Sappho, salah seorang penyair terkenal periode Yunani Klasik berasal dari wilayah tersebut. Nama Adonis juga sering dikaitkan dengan wujud ketampanan usia muda.

Adonis dan kultusnya berasal dari sosok Tammuz, yang namanya dalam beberapa variasi bahasa Semitik kuno adalah “adon” artinya “tuan”, sama seperti Adonai, rujukan Nama Yahweh dalam perjanjian Baru. Kultus pemujaan Tammuz ini juga melibatkan ratapan kematian oleh para wanita di kuil suci, sebagaimana bisa dilihat dalam Kitab Yehezekiel 8:14
“Lalu dibawa-Nya aku dekat pintu gerbang rumah TUHAN yang di sebelah utara, sungguh, di sana ada perempuan-perempuan yang menangisi dewa Tamus.”

Pada peringatan festival suci Adonis, yang digelar di wilayah Semitik dan Yunani Kuno, kematian sang dewa ini diratapi setiap tahunnya umumnya oleh para wanita: gambaran sosok Adonis juga dihadirkan dalam wujud jenazah yang diusung ke tempat pemakaman untuk kemudian dilemparkan kedalam lautan atau sumber mata air; dan pada beberapa tempat kebangkitannya dari kematian diperingati keesokan harinya. Di wilayah Alexandria festival Adonis diperingari dengan menampilkan sosok Aphrodite dan Adonis di atas kursi indah, disamping mereka diletakkan hiasan dari beragam kue, buah-buahan, dan tumbuhan. Pernikahan pasangan ini dirayakan pada hari pertama festival. Esok paginya, para wanita mengenai pakaian berkabung dengan rambut tergerai bertelanjang dada mengusung gambaran sosok jenazah Adonis ke tepi pantai dan melarungnya ke laut. Namun festival ini bukanlah tentang ratapan akan kematian sang dewa melainkan harapan akan kebangkitannya kembali. Waktu perayaan festival Adonis di Alexandria diperkirakan pada akhir musim panas. Pada kuil agung Astarte di Byblus Funisia, kematian Adonis diratapi setiap tahunnya melalui nada-nada sedih seruling diiringi ratapan dan wanita yang menepuk-nepuk dada mereka; pada keesokan harinya sosok Adonis diyakini akan bangkit dari kematian dihadapan para pemujanya.
Berbeda dengan wilayah lain, festival kultus Adonis di Funisia diyakini memiliki waktu yang pasti ditandai dengan perubahan air sungai Adonis, yang pada saat ini masih bisa disaksikan terjadi pada musim semi. Pada waktu itu air sungai akan berubah menjadi warna merah darah akibat luruhan tanah merah pegunungan Lebanon yang jatuh ke sungai dibawa air hujan. Pada periode kuno, warna merah ini diyakini berasa dari tetesan darah Adonis akibat tikaman taring babi hutan ketika dia berburu di Gunung Lebanon, yang menyebabkan kematiannya.

Monday, September 7, 2015


Sosok Samael memiliki sejarah dan peran yang cukup rumit dalam tradisi Angelologi Abrahamik. Selain diyakini sebagai malaikat suci, dia juga dipercaya sebagai sosok iblis. Dalam tradisi awal Judaisme, Samael dianggap sebagai malaikat kematian, salah satu dari tujuh Archangel, penguasa langit kelima, dan pemimpin dari 2 juta malaikat. Yalkut Shimoni memberikan peran Samael sebagai pembimbing Esau. Menurut Kitab Apokrif Kenaikan Musa, Samael berada di langit ketujuh:

"di langit terakhir Musa melihat dua malaikat dengan tinggi 500 parasang, ditempa dari rantai api hitam dan merah, Malaikat Af, "Kemarahan", dan Hemah "Kemurkaan", yang diciptakan Tuhan pada permulaan semesta untuk menjalankan kehendak-Nya. Musa gentar menatap mereka, namun Metatron merangkulnya, dan berkata, 'Musa, Musa, kau adalah kesukaan Yahweh, jangat takut dan jangan gentar,' dan Musapun menjadi tenang kembali. Ada satu malaikat lain ditempat itu, memiliki wujud berbeda dari malaikat lainnya, dan manusia. Sosoknya sangat tinggi sekali sehingga menempuh jarak 500 tahun perjalanan, dari mahkota ke telapak kakinya dipenuhi oleh mata bersinar. "Yang ini" kata Metatron adalah Samael, yang mencabut jiwa dari tubuh manusia. "Kemana ia pergi?" Tanya Musa dan Metatron menjawab ,"menjemput jiwa Ayub yang taat."

Sementara itu dalam tradisi Kabbalah, Samael digambarkan sebagai "murka tuhan" dan termasuk kedalam archangel kelima alam Briah. Nama Samael terkadang sering disalahpahami dengan Camael, salah satu archangel juga. Anggapan Samael sebagai wujud suci juga ditemukan dalam aliran Gnostik. Bahkan Gnostik menganggapnya sebagai wujud ilahi. Dalam kitab Gnostik, kitab Wahyu Yohanes, ditemukan di Nag Hammadi, Samael merupakan nama ketiga dari demiurge, ilah rendah, yang juga memiliki nama lain Yaldabaoth dan Saklas. Dalam konteks ini, Samael bermakna "Tuhan Buta", tema yang selalu diangkatkan dalam semua karya Gnostik. Dia memiliki wajah dengan wujud campuran ular dan singa. Selain itu, dalam kitab Gnostik lain, Asal Mula Semesta, Samael juga dijuluki Ariael, Archangel Penguasa.

Seiring dengan munculnya konsep teologis Malaikat yang Jatuh dalam agama Abrahamik, wujud Samael dikaitkan dengan wujud iblis atau malaikat jahat. Kata Samael sebenarnya berasal dari nama kerajaan bangasa Aram di Syria pada abad ke-2 SM. Beberapa ahli mitologi mengaitkan namanya dengan "Dewa Murka" versi semitik dari kata Sama, Samana, atau Samavurti. Atribut jahat Samael juga muncul dalam aliran Gnostik lainnya, meskipun wujud sucinya juga diakui. Dalam teks Gnostik, Sophia bertengkar dengan anaknya Ialadabaoth, yang menciptakan malaikat untuk menciptakan dunia. Dengan menguasai mereka, ia yakin akan menjadi penguasa dunia. Sophia berbicara padanya, Kau keliru Samael, menyebutnya Samael yang berarti "tuhan buta atau bodoh". Kebodohan ini dianggap sebagai akar kejahatan dalam ajaran tersebut. Dalam teks gnostik lain diceritakan bahwa Ialdabaoth mengusir Adam dan Hawa, dan ular yang telah menggoda mereka, keluar dari surga setelag memakan pohon Gnosis (Pengetahuan baik dan buruk).  Ular itu lalu menggunakan kekuatan pergerakan planet untuk memperanakkan keturunan bersama Hawa, enam putera yang menjadi Iblis pertama di bumi, ular itu dijuluki Sammael. Versi berbeda mengenai cerita ini ditemukan dalam kitab Kabbalah, Zohar. Di kitab ini dikatakan, Samael adalah wujud Ular yang menggoda Hawa. Dia bahkan bersetubuh dengan Hawa dan dari hubungan itu lahirlah Kain. Samael lalu menjadi pasangan Lillith, istri pertama Adam. Bersama Lilith, dia memperanakkan banyak Iblis, termasuk Sariel "pedang Samael".

Dalam demonologi Yahudi, nama Sammael muncul di kisah malaikat yang jatuh dalam Kitab Henokh. Dia merupakan pemimpin Iblis dan memimpin pemberontakan di surga, gambaran yang juga dikaitkan dengan Lucifer. Sebelum kejatuhannya, Samael lebih agung dari Serafim. Dia memiliki 12 sayap dan bertugas menjaga semua bangsa kecuali Israel. Dia memiliki tiga istri, Lillith, Nammah, dan Agrath bath Mahlat, malaikat pelacuran. Dalam kitab Apokrif Kenaikan Yesaya, Samael sering dikaitkan dengan Malkira atau Belkira yang merupakan julukan untuk nabi palsu Belial dikirim untuk menuduh Yesaya melalukan penghianatan, dalam kitab ini Samael juga diyakini sebagai Setan.



Dalam tradisi Yahudi, Metatron dipercaya sebagai salah satu dari empat Archangel (Penghulu Malaikat) dan Malaikat paling agung, berada pada urutan ke dua setelah Yahweh dalam kekuatan dan wujud. Dia bertugas untuk menjaga kelangsungan alam semesta dan membawa doa dan pujian orang Yahudi melalui 900 tingkat surga menuju Yahweh. Dia juga sosok malaikat yang mempunyai peran penting dalam tradisi Merkabah, Kabbalah, dan Talmud. Dia memiliki tubuh yang sangat besar, berbadan api dengan 36 pasang sayap dan beribu mata. Wajahnya lebih benderang daripada matahari. Sebagai Pangeran Kehadiran Ilahiyah, dia satu-satunya malaikat yang diberi keistiemwaan untuk berhadap langsung tatap muka dengan Tuhan bukannya melalui tabir seperti malaikat lainnya. Metatron berdiri dipuncak Pohon Kehidupan sebagai Malaikat Yahweh. Dia juga dijuluki “pohon pengetahuan baik dan buruh” yang berarti dia memiliki kesempurnaan manusia dan malaikat.
Metatron adalah wujud ilahiyah yang memimpin bangsa Israel dalam perjalanan di alam liar menuju Tanah Perjanjian. Dia juga dipercaya sebagai malaikat yang menahan tangan Ibrahim ketika dia akan mengorbankan puteranya, dan penyampai berita Air Bah kepada Nuh. Malaikat ini juga dijuluki sebagai Pangeran Hadirat, sebab dia merupakan pemimpin malaikat yang memiliki keistimewaan diperbolehkan berhadapan muka dengan Elohim. Salah satu dari sekian banyak tugas Metatron adalah sebagai Malaikat Maut yang memberikan perintah kepada Gabriel dan Samael untuk mencabut nyawa manusia ketika ajal mereka sampai. Para malaikat tingkat bawah tercipta dari nyala terang yang memancar dari tubuh Metatron. Dia juga bertugas sebagao pengurus Tahta Agung, tempat persemayaman Yahweh; Imam Agung dari kuil surgawi mengepalai seluruh malaikat, peran yang terkadang juga diberikan kepada Mikail. Selain itu, dia juga bertindak sebagai guru bagi anak-anak yang meninggal.
Akar kata nama Metatron tidaklah begitu jelas. Nama ini muncul dalam dua bentuk, Mttrwn dan Myttrwn. Kemungkinan nama ini dibuat untuk dirahasiakan atau dituturkan dalam kondisi Glossolalia, tutur yang diyakini di bawah pengaruh ilahiah. Menurut kitab Zohar, nama Metatron setara dengan Shaddai, salah satu nama dari Elohim. Asosiasi ini diperoleh dari numerologi mistis yang disebut Gematria, yang menerapkan hitungan angka kepada setiap alfabet Ibrani. Nama dan kata yang memiliki nilai angka yang sama dianggap memiliki hubungan mistik. Nama Shaddai dan Metatron memiliki nilai angka yang sama yaitu 314. Sebagai salah satu aspek dari Yahweh, Metatron terkadang juga dijuluki “sinar terang Shekinah.
Rabi Eleazar mengatakan Metatron kemungkinan berasal dari bahasa ltin metator yang berarti pembimbing, pengukur, penyiap perjalanan rohani. Akar kata lain yang juga mirip berasal dari bahasa Yunani metaturannos yang berarti “yang berkuasa kedua setelah raja dan istilah Yunani meta thronon yang berarti “tahta disebelah tahta ilahi” atau “tahta kedua”.
Genesis Rabbah mengatakan bahwa “metatron tercipta dari suara Yahweh”. Sedangkan menurut Henokh, Metatron merupakan perubahan wujud dari nabi Henokh, yangterkenal akan keshalihannya sehingga Tuhan mengangkatnya ke surga dan mengubahnya menjadi Malaikat. Pada masa hidupnya Henokh merupakan seorang penulis naskah, dan sebagai Metatron ia terus bertugas sebagai penulis yang kali ini menulis naskah surgawi dan berdiam di langit ketujuh, dimana dia mencatat semua peristiwa yang terjadi di langit dan di bumi. Zohar mengatakan Henokh bisa berubah menjadi malaikat karena percikan ilahiah yang hilang pada manusia akibata kejatuhan Adam merasuk ke dalam tubuh Henokh. Karena tubuh manusia fana tidak bisa menampung percikannya, makan Henokh diangkat ke surga dan diubah menjadi Malaikat. Kitab 3 Henokh memberikan gambaran rinci tentang perubahan Henokh menjadi Metatron. Yahweh mengutus Anapiel membawa Henokh ke surga dengan sayap-sayap Shekinah. Begitu mereka mencapai gerbang langit malaikat suci penjaga tahta Yahweh—Ophanim, Serafim, Cherubim, Tahta—mencium bau busuk manusia sejauh 365.000 myriad Parasang. Mereka bertanya kepada Yahweh kenapa manusia dibawa ke surga. Lalu, Yahweh menjawab karena ulah buruk perbuatan manusia, dia mengambil Shekinah dari tengah-tengah mereka, namun Henokh merupakan manusia taat dan masih pantas bersama Shekinahk.
Di surga Henokh berubah menjadi wujud Api. Metatron menggambarkan perubahan wujud sebagai berikut:
“seketika tubuhku merubah menjadi api, sendi menjadi nyala membara, tulangkan menjadi batu bara, bulu mataku menjadi lidah api, bola mataku menjadi suluh api, rambutku menjadi nyala panas, seluruh tubuhnya menjadi sayap berapi, dan isi tubuhnya menjadi api menyambar-nyambar.”
Yahweh memberkati Henokh dengan 1,365,000 karunia yang membuat wujudnya bertambah besar hingga sebesar bumi. Ia memiliki 72 sayap dengan 36 pasang pada masing-masing tubuhnya, dan satu sayapnya bisa menutupu seluruh alam semesta. Ia diberi 365,000 mata dan masing-masing matanya setara dengan Matahari. Ia juga diberi jubah agung dan mahkota 49 batu seperti matahari yang menyinari keempat sudut langit. Semua anugerah kebajikan, kebijaksanaan, kekuasaan dianugerahkan Yahweh kepada Malaikat ini, Bahkan Dia menamainya “Yahweh kecil”.

Pengunjung Blog

Komentar Terbaru

My Blog Rank

SEO Stats powered by MyPagerank.Net

Advertisement

Translate

Popular Posts

Visitors

Total Pageviews

Powered by Blogger.

Followers