Tuesday, June 3, 2014


Ambrogio adalah seorang pemuda yang suka berpetualang. Terlahir dan besar di Italia, dia selalu ingin berpetualang ke Yunani untuk meramal nasibnya kepada Orakel (Peramal Yunani) Delphi. Saat dia beranjak dewasa, Ambrogio pergi berlayar dengan sebuah kapal hingga mencapai perbatasan barat Yunani, dekat Astakos. Kemudian, dia berpetualang ke arah timur hingga pada akhirnya dia tiba di kota Delphi.

Delphi adalah kota suci di mana didirikan kuil agung untuk Apollo, dewa matahari. Kota ini juga merupakan kampung halaman Phytia seorang Orakel terkenal. Biasanya Phytia akan bersemedi di dalam kuilnya dan membacakan ramalan yang diilhamkan oleh Apollo,  kepada mereka yang mendatangi Orakel tersebut.

Sesampainya di kuil itu, Ambrogio hendak berbicara mengutarakan keinginannya kepada Phytia. Tapi Pythia hanya mengatakan beberapa patah kata yang tidak jelas: “Kutukan, Rembulan. Darah akan tertumpah.”

Setelah mendengar semua itu, Ambrogio menjadi bingung, dan tidak dapat tidur di malam itu. Dia terus terjaga di luar kuil, memikirkan maksud dari perkataan Pythia yang tadi ia dengar. Ketika matahari terbit, Ia sadar bahwa ia tidak tertidur sepicingpun malam itu. Pada saat dia dia kembali menuju kota, dia melihat seorang wanita cantik bergaun putih berjalan menuju kuil. Segera dia menuju wanita tersebut dan berkenalan. Wanita itu bernama Selene, juga gadis penjaga kuil yang juga saudari dari Sang Orakel.

Selama beberapa hari berikutnya, setiap subuh pada pagi harinya Ambrogio bertemu dengan Selene di depan kuil sebelum dia melakukan tugasnya sebagai penjaga kuil. Lambat laun, merekapun saling jatuh cinta.

Pada hari terakhirnya berada di Yunani, Ambrogio mengajak Selene menikah dan ikut pulang bersamanya ke Italia. Wanita itupun menyetujui ajakannya. Ambrogio mengatakan pada Selene ia akan mempersiapkan segala sesuatunya serta berjanji akan menemuinya di luar kuil tempat mereka biasa bertemu esok pagi.

Apollo, dewa matahari telah mengawasi mereka sejak lama. Apollo juga menaruh hati pada Selene yang cantik dan menjadi murka karena Ambrogio telah datang ke kuil serta mengambil salah satu gadis penjaga kuil miliknya tersebut. Saat matahari terbenam pada hari itu, Apollo muncul di hadapan Ambrogio dan mengutuknya. Semenjak hari itu dan seterusnya, cahaya matahari yang mengenai Ambrogio meskipun sedikit akan membuat kulitnya terbakar.

Ambrogio menjadi putus asa. Dia berencana pergi meninggalkan Yunani dengan Selene pada esok paginya, namun karena kutukan Apollo ia tak dapat menemui Selena ketika matahari terbit seperti yang telah ia janjikan. Karena tidak menemui jalan keluar, ia pergi menuju gua  yang membawanya kepada Hades dan meminta perlindungan kepadanya. Hades, dewa penguasa dunia bawah, mendengarkan semua cerita Ambrogio dan memberikannya penawaran. Jika dia bisa mencuri busur perak Artemis untuknya, Hades berjanji akan memberikan  dia serta Selene perlindungan di dunia bawah. Dalam kesepakatan itu, Hades juga memberikan busur kayu ajaib besera 11 anak panah yang akan dia gunakan untuk berburu. Dia harus mempersembahkan hasil buruannya kepada Artemis untuk menarik kepercayaanya sehingga ia bisa mencuri busur perak tersebut. Sebagai jaminan, Ambrogio harus meninggalkan jiwanya di dunia bawah hingga ia kembali bersama busur perak Artemis. Seandainya dia tidak kembali bersama busur itu, ia akan tinggal selamanya bersama Hades dan takkan pernah kembali ke Selene. Tidak mempunyai pilihan, Ambrogio menyutujui tawaran itu.

Ambrogio tidak bisa memberitahu Selene apa yang telah terjadi padanya. Dia ingin menuliskan parkamen untuknya tetapi dia tidak memiliki alat untuk menulis. Lalu dengan menggunakan panah pemberian Hades, dia membunuh seekor angsa. Dengan menggunakan bulu angsa tersebut sebagai pena dan darahnya sebagai tinta, Ambrogio menuliskan surat untuk Selene mengatakan dia tidak bisa menemuinya tapi dia akan berusaha mencari jalan keluar agar mereka bisa bersama lagi. Dia meninggalkan surat itu di tempat mereka akan bertemu lalu pergi dari tempat itu menyembunyikan diri dari cahaya matahari.

Selene merasa merasa sangat kecewa setelah dia menemukan dan membaca surat itu. Tidak ingin memancing kemarah Apollo lebih jauh lagi, Selene kembali melakukan tugasnya di kuil seperti biasanya. Esok paginya, Selene kembali ke tempat mereka akan bertemu, tapi sama seperti sebelumnya dia tidak mendapati Ambrogio di sana. Dia menemuka sehelai parkamen lagi bertuliskan darah. Setelah dibukanya, ternyata Parkamen itu adalah puisi cinta dari Ambrogio.

Setiap pagi selama 44 hari berikutnya, Ambrogio terus membunuh angsa dan menggunakan darahnya untuk menulis puisi cinta untuk kekasihnya. Setelal mengeringkan darahnya, dia mempersembahkan angsa buruan itu kepada Artemis, dewi pemburu dan dewi bulan yang juga merupakan saudari Apollo. Dia berharap meskipun ia bisa mencuri busur itu, Artemis akan merasa tersanjung karena persembahannya dan membujuk saudaranya untuk melenyapkan kutukan yang ia berikan pada dirinya. Pada hari ke 45, Ambrogio hanya memiliki satu anak panah yang masih tersisa. Ketika menembakkan anak panah itu, tembakannya meleset dari angsa yang akan dipanahnya. Kehabisan panah, dia tidak memiliki darah untuk menulis puisi untuk Selene dan angsa buruan untuk dipersembahkan pada Artemis. Bersimpuh ke tanah, dia merasa sedih, kecewa, dan putus asa.

Melihat kemampuannya berburu serta semua persembahan yang telah Ambrogio berikan kepadanya, Artemis muncul di hadapanya. Dia memohon kepada Artemis untuk meminjamkannya anak panah dan busur miliknya agar dia bisa membunuh satu ekor angsa lagi dan menuliskan surat terakhir buat Selene.

Artemis yang menaruh iba padanya meminjamkanya busur perak dan anak panah. Ambrogio mengambil busur itu, dengan putus asa dia berlari menuju gua dimana dia bertemu Hades. Mengetahui apa yang terjadi, Artemis murka dan mengutuknya juga. Dia mengutuk kulit Ambrogio akan terbakar ketika tersentuh perak. Ambrogio menjatuhkan busur perak Artemis dan tersungkur ke tanah kesakitan.

Artemis sangat marah dan kecewa karena kebohongan Ambrogio.  Namun Ambrogio memohon ampun padanya dan menjelaskan dia terpaksa menerima tawaran Hades karena kutukan Apollo dan karena cintanya yang besar untuk Selene. Dia sangat menyesal terpaksa melakukan itu karena tidak ada pilihan lain.

Mendengar cerita sedihnya itu, Artemis kembali menaruh iba padanya dan memberinya satu kesempatan lagi. Dia menawarkan untuk membuat Ambrogio menjadi pemburu yang hebat sepertinya, dengan kecepatan dan kekuatan seperti dewa dan gigi taring untuk mengisap darah binatang yang bisa dia gunakan untuk kembali menulis puisi cinta buat Selene. Sebagai ganti akan keabadian yang akan dia berikan, Artemis membuat kesepakatan yang harus dipatuhi Ambrogio. Dia dan Selene harus pergi dari kuil Apollo dan hanya memuja Artemis selamanya. Karena Artemis merupakan seorang dewi perawan dia ingin seluruh pengikutnya tetap suci dan tidak menikah. Oleh karena itu, Ambrogio dan Selene tidak boleh saling menyentuh, berciuman, dan memiliki anak.

Ambrogio menyetujui kesepakatan itu. Setidaknya, dia dan Selene masih bisa tetap bersama. Dia membunuh seekor angsa untuk menuliskan surat pada Selene. Di surat itu dia menyuruh Selene menemuinya di sebuah kapal di dermaga. Menjelang subuh pada keesokan hari, Selene menemukan surat itu dan lari dari kuil itu sebelum matahari terbit agar tidak ketahuan oleh Apollo.

Ketika Selene tiba di dermaga, ia mendapati kapal seperti yang dikatakan Ambrogio dalam suratnya namun tidak ada Ambrogio. Selenepun pergi mencari Ambrogio ke dalam lambung kapal. Di situ dia menemukan sebuah peti mati dan sebuah surat dari Ambrogio yang memberitahunya memerintahkan nahkoda kapal segera berlayar, dan juga memberitahunya agar membuka peti mati itu ketika matahari terbenam. Dia melakukan seperti apa yang ada pada surat itu, ketika matahari terbenam dia membuka peti mati tersebut dan mendapati Ambrogio dalam keadaan hidup dan sehat.

Pasangan itu berlayar menuju Efesus, di sana mereka tinggal di sebuah gua ketika siang hari dan memuja Artemis setiap malamnya di kuil yang mereka dirikan untuk dewi itu. Mereka hidup bahagia bersama selama bertahun-tahun tanpa pernah bersentuhan, berciuman dan memiliki anak
 
Setelah sekian tahun berlalu, Ambrogio masih tampak tetap muda karena keabadian yang diberikan Artemis kepadanya. Tapi tidak dengan Selene, dia tetap menua sejalan dengan usianya layaknya manusia fana. Pada akhirnya dia jatuh sakit dan sekarat. Ambrogio sangat sedih karena dia tak bisa bergabung dengan Selene di alam kematian karena dia telah menyerahkan jiwanya  pada Hades. Pada suatu malam, dia pergi berburu ke hutan dan mendapati seekor angsa cantik berwarna putih bersih sedang berenang sendirian di danau. Dia membunuh angsa itu dan mempersembahkannya pada Artemis, memohon padanya agar Selene juga diberikan keabadian agar mereka bisa tetap bersama selamanya.

Artemis muncul di hadapan Ambrogio.  Sebagai balasan atas kesetiaan dan penyembahan yang telah Ambrogio berikan selama ini, Artemis memberinya satu penawaran terakhir. Artemis berkata pada Ambrogio bahwa dia boleh menyentuh Selene hanya untuk satu kali ini untuk meminum darahnya. Dengan melakukan ini, Ambrogio akan membunuh tubuh fana Selene tapi semenjak itu dia akan berubah abadi karena darahnya yang telah bercampur dengan darah Ambrogio. Dan dengan darah itu, mereka bisa memberikah kehidupan abadi bagi siapapun yang mau meminumnya. Pada mulanya Ambrogio menolak melakukan ini, tetapi setelah dia menceritakannya pada Selene, wanita itu meminta Ambrogio melakukan itu agar mereka tetap bersama selamanya. Setelah meyakinkan dirinya, Ambrogio menggigit leher Selene dan menghisap darahnya agar bercampur dengan darah dalam tubuhnya. Ketika dia meletakkan tubuh pucat itu, tiba-tiba tubuh Selene bersinar terang dan dan terbang tinggi ke langit. Ambrogio menyaksikan jiwa Selene yang kini bersinar terang terangkat ke langit menyatu dengan Artemis di bulan. Ketika jiwa Selene sampai di  sana, bulan memancarkan cahaya yang sangat terang dan cemerlang.

Sejak itu Selene menjadi dewi bulan, dan di setiap malamnya ia akan menyinari bumi dengan cahaya terangnya serta dengan cahaya itu menyentuh Ambrogio kekasihnya serta anak-anak mereka- para vampir baru yang didalam diri mereka mengalir campuran darah Ambrogio dan Selene.

Translated From Vampire Origin Story

Dipercayai bahwa Ambrogio dan Selene merupakan Vampire yang pertama kali ada di bumi.
Di percayai bahwa melantunkan sebuah pujian terhadap Selene bisa merubah seseorang menjadi Vampire. Dalam banyak Kultus pemujaan Vampir, ode atau lagu pujian tersebut bisa dijadikan mantra bagi siapa yang ingin jadi Vampire. Berikut odenya!

 
Ode To The Vampire Mother

Oh goddess of the darkness
Wahai sang dewi kegelapan
mother to the immortal
Ibu dari makhluk abadi
let me be reborn as your child
Perkenankan aku terlahir sebagai anakmu
let your light absorb my own
Perkenankan cahaya terangmu merasukiku

Allow me passage to the darkness
Tunjukkan jalan menuju kegelapan
as from your immortal womb
Menuju rahim abadimu
into the arms of your children
Menuju pelukan anak-anakmu
to whom I will call brother
yang bisa ku panggil saudarku

Oh moonlight
Wahai cahaya bulan
let me be reborn as your child
Perkenankan aku terlahir sebagai anakmu
guide the dark ones to me
Bimbinglah sang kegelapan  padaku
so I shall be born again
Agar aku bisa terlahir kembali

Monday, June 2, 2014

(Cerita Rakyat Skotlandia)
 
Alkisah, salah seorang penduduk desa Unst yang sedang berjalan di pantai berpasir melihat para bangsa duyung sedang menari bersama di bawah sinar rembulan dengan anjing laut. Ketika pria itu mendekat, semua duyung itu tiba-tiba melarikan diri memunguti pakaian mereka lalu berubah wujud menjadi anjing laut serta segera mencebur  ke dalam air laut. Akan tetapi, penduduk desa itu melihat sebuah ekor kulit ikan tergeletak di dekat kakinya; dia memungut ekor itu lalu membawanya pulang dan menyembunyikannya.

Ketika dia kembali ke pantai esok harinya, dia bertemu dengan seorang gadis cantik sedang meratapi pencurian atasnya, yang karenanya dia diasingkan dari teman-temannya di bawah laut dan menjadi penghuni dunia atas. Sia-sia dia memohon tolong untuk mengembalika ekornya tersebut; pria itu terlanjur jatuh cinta dengan gadis tersebut dan tak mau mengembalikannya; tetapi dia menawarkan gadis duyung tersebut untuk tinggal bersama dan menikah dengannya. Puteri duyung, yakin bahwa dia akan menjadi penghuni daratan, menerima tawaran itu. Pernikahan mereka berlangsung dengan hambar dan membuahkan mereka beberapa orang anak. Cinta pria itu terhadap duyung yang telah dinikahinya tersebut sangat dalam tetapi cintanya tidak berbalas manis. Tanpa setahu suaminya, sang duyung sering pergi ke pantai sunyi ketika dia melihat pertanda bahwa akan pertemuan para duyung di pantai. Bersama mereka, dia berbicara dengan bahasa yang tidak dimengerti manusia. Tahun-tahun berlalu, ketika suatu hari salah seorang anaknya menemukan kulit ekor ikan di bawah tumpukan jagung. Terkejut akan apa yang dia temukan, bocah itu berlari menuju ibunya dan menyerahkan ekor itu. Mata duyung itu bersinar gembira ketika dia kembali melihat ekor yang dulu miliknya yang berarti bahwa dia bisa kembali pulang ke bawah laut ke kampung halamannya.

Dia melonjak penuh gembira tapi agak sedih ketika dia melihat anak-anaknya yang akan dia tinggalkan. Setelah memeluk mereka dengan erat, dia berlari dengan cepat menuju tepi pantai. Tak lama setelah itu, sang suami pulang ke rumah dan mengetahu bahwa ekor yang dia sembunyikan telah ditemukan. Segera dia berlari menuju pantai, di sana dia mendapati istrinya telah berubah wujud menjadi wujud aslinya. Sesosok wujud yang juga sama dengan dirinya tiba-tiba muncul menyambutnya dengan riang karena dia berhasil melarikan diri dari suami manusianya. Namun sebelum mencebur ke lautan dalam, dia melayangkan tatapan perpisahan terhadap pria desa malang itu, kesedihan di wajah pria menimbulkan rasa penyesalan di hati sang duyung.

“Selamat tinggal!” ujar duyung itu padanya ,”semoga kau baik-baik saja. Aku sangat menyayangimu ketika aku tinggal di daratan, tapi aku lebih menyayangi suami pertamaku yang tinggal di bawah laut sana.”


 (Cerita Rakyat dari Skotlandia)

Suatu hari ketika seorang Istri petani tengah menidurkan bayinya, dia terkejut karena  seorang wanita cantik bergaun indah tiba-tiba muncul di ruang tamu rumahnya. Dia tak pernah melihat wanita secantik itu di lingkungan tersebut sebelumnya. Istri tersebut tidak mendengar suara ada seseorang masuk ke rumahnya, karena itu dengan terhopoh-gopoh dia menyambut tamu yang tidak dikenalnya itu. Dia mempersilahkan wanita itu duduk, tapi dia menolak dengan sopan. Dia mengenakan pakaian yang sangat mengagumkan; gaunnya seperti dijahit dari daun-daun di taman disulam dengan lingkaran-lingkaran emas yang berkerlap-kelip, dan dikepalanya berterngger sebuah makhota bunga bertahtakan permata. Istri petani tambah terkejut lagi dengan apa yang diminta oleh tamu misterius tersebut. Tamu itu dengan suara merdu seperti irama musik meminta Istri petani itu memberikannya satu bejana penuh bubur gandum. Satu bejana penuh bubur gandum diberikan oleh petani itu kepada tamunya, karena suaminya yang seorang petani dan tukang giling mereka memiliki makanan yang berlimpah. Gadis itu berjanji akan menggantinya; dia juga mengatakan hari dia akan mengganti kembali makanan itu. 

Pada hari yang telah ditentukan untuk mengganti makanan tersebut, seseorang muncul mengantar makanan ke rumah petani tetapi bukan tamu misterius malam itu melainkan seorang perempuan memiliki tubuh yang kerdil dengan suara mendengking; dia juga memiliki pakaian berwarna hijau seperti gadis itu. Setelah menyerahkan makanan itu, dia mendengking, "Selamat menikmati; ini adalah hidangan acar jagung yang lezat." Makanan itu sangat lezat; tapi ada sesuatu yang aneh, sosok pengantar makanan itu berpesan kepada keluarga petani untuk berbagi makanan itu dengan orang lain. Karenanya, keluarga petani memberikan sebagian makanan itu kepada seorang pemuda tetapi dia menolaknya dengan angkuh; tak lama berselang pemuda itu meninggal dunia. Petani dan istrinya yakin dia meninggal dunia karena menolak pemberian makanan itu. Mereka juga sangat yakin bahwa tamu misterius malam itu adalah Ratu Bangsa Peri yang terpaksa keluar dari istanaya karena tidak ada dayang yang bisa dia suruh malam itu. Beberapa malam setelah kunjungan misterius tersebut, ketika petani tukang giling itu akan tidur, dia mendengar seseorang mengetuk pintu; ketika dia membuka pintu dia melihat sesosok kerdil berpakaian serba hijau berdiri di sana. Dengan suara nyaring tapi terdengar sopan sosok itu meminta tukang gilin menyalakan penggilingannya karena dia mau menggiling jagung. Petani tidak berani menolak permintaan itu dan menyalakan penggilinganya. Sosok kerdil itu menyuruh petani kembali tidur dan dia berkata,"tak perlu khawatir, besok kau akan mendapati penggilingan ini seperti ketika yang kau tinggalkan malam ini." Keesokan harinya, tukang giling itu mendapati penggilingannya persis seperti yang dikatakan sosok kerdil tersebut. Begitulah kejujuran bangsa peri.
 
Grade XI of Social Studies Class
SMAN..........
____________________________________________________
Name:                                                                                             Class:

I.    Complete the following text with the words in the bold!
 achievement, supervisions, committee
announce, Norway

Announcement

    With great pleasure we1…………….  that Amanda, Oki and Soni have been chosen to participate in the International Physic Olympiad on November 20, 2013 in 2…………. Now they will study and learn physic more intensively under Ms. Tatiana and Mr. Roger’s3 ………..
    Amanda, Oki, and Soni were among 150 candidates shortlisted for the post and have been selected after a rigorous round in the selection along with the interview result to help the4………....... decide on their choice.
    Let’s support and pray for their best 5…………….


Mr.Hamdi
Principal




II.    Match the statements in the left side to the responses in the right side!
1.    Do you think I ought to study Hypnotism?                                           a.    It’s alright. We are still waiting for the major to open the 
                                                                                                                    seminar anyway.
2.    I heard you cut your finger when you were slicing the onion, is it right?    b.    Make sure you bring a lot of thick coat. The weather is   
                                                                                                                    freezing.
3.    I will go to Europe in next winter                                                         c.    I don’t think so. You’d better study about your lessons at 
                                                                                                                    school
4.    Ms. Nana gave me your test. You got 98 for the test                               d.    Yes, it is. My finger is really painful if I touch something.
5.    Sorry I am late. The traffic was really awful                                           e.    That’s a wonderful mark
III.    Put the two sentences together to create one sentence by making adjective clause or noun clause!
a.    Adjective clause
1.    The young girl is very beautiful. She won the beauty contest last month.
____________________________________________________________________________________________________________________________________
2.    The movie wasn’t very good. We saw it last night.
___________________________________________________________________________________________________________________________________
3.    The boys go to SMAN 1 Banuhampu. I saw them in the district library two days ago.
____________________________________________________________________________________________________________________________________
4.    I bought a new TV. It had been produced in USA
____________________________________________________________________________________________________________________________________
5.    The kid stays with his grandmother. He plays with my little brother every day.
____________________________________________________________________________________________________________________________________
b.    Noun clause
1.    Which class are we now studying?
I forget____________________________________________________________
2.    How did she meet his husband?
Ms. Sue doesn’t want to tell me________________________________________
3.    Where will he spend his holiday?
Let’s ask him_______________________________________________________
4.    Does he need some help?
I wonder__________________________________________________________
5.    Is your friend having trouble?
He asks me________________________________________________________
IV.    Complete the following text with the words in the circular box
Memorandum
To        : Alva Smith, Marketing Manager
From    : Stuart Jacobson, General Manager
Date    : December 3, 2013
Subject    : Information of annual meeting

    Please 1………… your accounting staff that we will 2……………….. an annual meeting by the end of this 3…………. All of the marketing financial 4…………… will be presented in the meeting. Tell her to be 5…………...



month, prepared ,reports,
tell, hold

V.    Fill in the following sentences with the correct form of adjectives!
1.    People who constantly complaint are very ______________________ (annoy)
2.    The dragon was a _______________________ creature in the fairy tale (terrify)
3.    The ____________________ woman was put into an ambulance (injure)
4.    I still have five more ______________ courses to take (require)
5.    This mathematic matter is really _____________________ (confuse)

VI.    Read the text and answer the questions that follow!
    It was a market day and a farmer was riding his cart along the country road. He had to reach the market early so that he could sell his hay. It was very difficult for the horses to drag the load through the deep mud and suddenly, the wheels of the horse cart sank into the mire.
    The more the horse pulled, the deeper the wheels sank. The farmer climbed down from his seat and stood beside his cart. He searched all around, but could not find anyone to help him. Cursing his bad luck, he looked dejected and defeated. He didn’t make the slightest effort to get down to the wheels and lift them up by himself. Instead he started cursing his luck for what happened. “I am so unlucky! Why has this happened to me?”
    Then an old man approached the farmer. He asked, “Do you think that you can move the cart, by simply looking at it and whining about it? Nobody will help you unless you make an effort to help yourself? Get up, put your shoulder to the wheels and you will soon find the way out”
    The farmer was ashamed of himself. He bent down and put his shoulder to the wheels and urged on the horses.
    In no time the wheels were out of the mire. The farmer learned his lesson. God helps those who help themselves
1.    What was the country road like?
____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
2.    What did the farmer do when the wheels of the horse cart sank into the mire?
_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
3.    According to the story, what was the farmer like?
_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
4.    What can we learn from the story?
_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
5.    “…… lift them up by himself.” (paragraph 2)
What does “them” refer to
_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

            The word geothermal comes from the Greek words ‘geo’ meaning earth and  ‘therme’ meaning heat. So, geothermal energy is heat from within the earth. We can recover this heat as steam or hot water and use it to heat building or generate electricity.
            Geothermal energy is renewable energy because the heat is continuously produced below the earth’s surface.
            People around the world use geothermal energy to heat homes and to produce electricity by digging deep wells and pumping the heated underground water or steam to the surface of the earth to heat and cool buildings.
            Naturally occurring large areas of hydrothermal resources are called geothermal reservoirs. Most geothermal reservoirs are deep underground with no visible clues showing above ground. However, geothermal energy does find its way to the surface in the form of volcanoes and fumaroles (holes where volcanic gases are released), hot springs, and geysers.
            Geologists use various methods to look for geothermal reservoirs. Drilling a well and testing the temperature deep underground is the most reliable method for finding a geothermal reservoir.

1.    Where does geothermal energy come from?
______________________________________________________________________________________________________________________________
_______________________________________________________________
2.    Why is the geothermal renewable?
_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
3.    Why is the usage of geothermal energy?
_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
4.    Where will likely the geothermal find the way to the surface of the earth?
______________________________________________________________________________________________________________________________
_______________________________________________________________
5.    What is the main idea of the last paragraph?
_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

GOOD LUCK



1.    The influence of history is difficult to explain as it contains all of the deep structure elements of culture. What is your understanding related to this?
As culture is defined as several traits or items that bind a group of people, all members of cultural group share the common traits amongst them. To establish a cultural group, those people have to live together in a great deal period of time. In this long period, they underwent many historical events that influence the way the view the world. For example, the group of people who in their histories were victim of wars will view wars as a forbidden in the culture they later established, they would teach their cultural members to hold peace amongst all. It is the history that will determine how a cultural group will be.
2.    How does language diversity cause problems in the United States? What solutions can you propose to deal with this problem?
    The diverse language spoken amongst American residents has drawn many political concerns in the United States. The parliament has frequently tried to propose English as an official language, yet this proposal is still refused. The major problem is risen in the communication because several people do not have mutual linguistic understanding amongst them. This will trigger misunderstanding prejudice which will end up in conflict.
    To solve this problem, the government must ensure that all members of society have access to learn a language that is commonly spoken, English. The government must guarantee that they will have a sufficient proficiency to speak in societal circumstances. Yet, they are still allowed to speak the language of their ancestor in order that their cultural identity will still be preserved.
3.    The discrimination between men and women in west countries has happened since a long time ago and still happen nowadays. At present, the discrimination perhaps is not obvious as before, although it is in different. How would you describe this difference?
    Although the feminist has promoted the gender equality in all over the globe, the gender discrimination ten is still seen nowadays. Unlike the discrimination in the previous time, woman discrimination today can be seen in the following description. Firstly, it commonly occurs in the work place. At the present time, there is a slight gender difference in the work place. Some works are mainly occupied by men, such as the presidents of company, managers, driver, pilot, ship’s captain, mechanic operator, soldier etc. Secondly, gender disparity can be seen in sport. In the world sport, men are occupied in certain sports, such as football, weight lifting, basket ball etc. The discrimination can also appear in the sport activities. Most sport events apply the different gender in the events. Women only play with women and vice versa because it is presumed that the women are not the equal competitor for men.     
4.    In discussing something or talking about anything you probably agree or disagree. It is easy to agree with someone on any level or formality. In contrary, it is sometimes quite difficult when you argue someone on any level with a different culture. How would you solve this problem?
    The different people grown in different culture will have the different views, ideas, beliefs, ideologies, etc that they inherit from the cultural elder members. When those people are engaging in the communication, some conflicts will sometimes be arisen due to these differences. To solve this problem, they need to establish mutual understanding between them. They must realize that the different cultures that have grown them contribute different ideas, views, and beliefs in their mind. All in all, they have to try to value the diversity.
5.    What is meant by the phrase “communication is rule governed”? What are some rules that govern your communication in the classroom? How might these rules differ in another country?
    “Communication is rule governed” can be defined as that there are several rules that govern people in communicative circumstances. In communication, people are bound to the rules that are commonly shared amongst them. For example, the young people are not allowed to interrupt the elder in communication, people are forbidden to swear or curse in the presence of children etc.
    The rules governing communication in my classroom is the typical rules on how education runs in the eastern cultural context. To begin with, students are not allowed to call their teachers by their name whether first or surname in communication. It is considered to be rude and impolite to call them by their name although it is followed by a formal addressee. Students simply call them Pak, Buk, Mr., Sir, and Miss. Related to the communication amongst students, the rules are varied. How people communicate to their fellow students depend on their closeness to them. If they are close enough, they may refer their friends as to “Lu” , “Ang”, or “Kau”, to themselves “Gue”, “Gua” or “Den. But it is considered to be rude to use those addressees to the fellows whom they are not close enough. They simply address them by their first name, and to themselves they refer as to their name or “Awak”.
    I presume these rules are different to another country especially to western ones. In western cultural context, students call their teacher by their names, if it is the surname, it is followed by the formal addressee like Mr. Mrs. and Miss; but they omit the formal addressee if it is the first name. As for communication between students, it is not so varied as those are in my educational context. Most students simply call their name and refer them as you and to themselves I. I also notice some students also call their fellows by their family name as a sign of mockery or bully. Intimate addressees are also found amongst students whose relationship is close.

Sunday, June 1, 2014

Gelora Badai 
(1898)
Oleh: Kate Chopin
I

Daun-daun pohon diam tak bergerak hingga bahkan seorang Bibi sekalipun yakin hujan akan segera turun. Bobinôt, yang terbiasa berbicara segala sesuatu tentang kesempurnaan dengan puteranya, menyuruh anak itu memperhatikan awan mendung yang bergulung dari arah timur membawa ancaman hujan, ditemani oleh dentuman guntur yang mengancam. Mereka berada di toko Friedheimer dan memutuskan untuk tetap di dalam toko hingga badai itu berhenti. Mereka duduk dekat pintu di atas dua tong kosong. Bibi berusia empat tahun dan sangat cerdik.
“Mama akan ketakutan,” ujarnya dengan mata mengerling.
“Dia akan menutup rumah. Semoga Sylvie ada di sana membantunya.” Jawab Bobinôt meyakinkan.
“Tidak. Sylvie tidak di sana. Dia di sana kemarin,” seru Bibi.
Bobinôt bangkit dari duduknya berjalan menuju ke rak membeli sekaleng udang kesukaan Calixta. Kemudian dia kembali ke tempat duduknya di atas tong dan duduk dengan diam sambil memegang kaleng udang itu sementara badai berhembus kencang di luar toko. Badai itu menyebabkan toko yang berbahan bangunan kayu itu berguncang dan nampaknya badai itu memporak porandakan galur-galur kebun di ladang yang jauh dari situ. Bibi meletakkan tangan mungilnya di atas lutus ayahnya tanpa merasa takut.
II

Calixta, yang sedang berada di rumah, tidak merasa sedikit kekhawatiranpun atas keselamatan mereka. Dia duduk di tepi jendela sambil menjahit di atas mesin jahitnya dengan semangat-semangatnya. Dia sangat sibuk sehingga tidak menyadari badai akan datang. Dia merasa kepanasan dan sesekali mengusapkan sebuah lap ke wajahnya yang dibanjiri oleh buliran-buliran keringatnya yang bertetesan. Dia melepaskan saque putih yang dililitkan di lehernya. Hari mulai gelap dan tiba-tiba dia menyadari badai akan datang. Dia bangkit dari mesin jahitnya dan sambil tergesa-gesa menutup seluruh jendela dan pintu rumah.
Di luar rumahnya, di serambi kecil depan rumah, dia menjemur pakaian minggu Bobinôt; dia bersegera ke sana mengangkat jemuran itu sebelum hujan turun. Ketika dia melangkah keluar rumah, Alcée Laballière menunggang kudanya di depan gerbang. Dia jarang sekali melihatnya semenjak pernikahannya, dan tak pernah melihatnya sendirian. Dia berdiri di sana memegang mantel M'sieur Alcée. di tangannya, tetesan air hujanpun mulai berjatuhan. Alcée menunggangi kudanya menuju ke arah tempat teduh di tepi atap gerbang di mana beberapa ekor ayam telah merunduk di sana dan juga ada garu yang ditumpuk pada bagian sudut tempatnya berteduh tersebut.
“Boleh aku numpang berteduh di serambi rumahmu hingga badai ini berhenti, Calixta?” tanya pria itu.
“Silahkan M'sieur Alcée.”
Suara pria itu dan suaranya mengejutkanya seolah baru tersadar dari kesurupan, dan segera dia meraih rompi Bobinôt. Alcée naik ke atas serambi rumah, memungut celana dan menangkap jaket rajut Bibi yang diterbangkan oleh hembusan angin. Dia menolak untuk masuk ke dalam rumah, tapi tak lama kemudian dia mungkin sama saja dengan tidak berteduh: air hujan berjatuhan dengan deras dan memercikkan air di atas baju berkudanya. Karenanya dia ikut masuk ke dalam rumah tanpa lupa menutup pintu. Bahkan perlu menaruh sesuatu di bawah pintu supaya air hujan tidak masuk
“Ya ampun! Hujannya deras sekali! Sudah dua tahun tidak ada hujan sederas ini,” seru Calixta sambil membuka gulungan sebuah tas dan Alcée membantunya meletakkannya di bawah celah pintu.
Perempuan itu tampak lebih berisi daripada lima tahu sebelumnya ketika dia menikah; tapi raut kegembiraan di wajahnya masih tetap sama. Mata birunya masih mempertahankan keindahanyya, dan rambut pirangnya, kusut tergerai ditiup angin dan hujan, lebih kusut dari kerutan telinga dan pelipisnya.
Hujan deras mengguyur atap rumah yang sirap dan rendah berbunyi berisik seolah berusaha membuat lubang masuk di atap itu untuk menenggelamkan mereka yang berada di bawahnya. Mereka berada di ruang makan—ruang tamu—sekaligus  ruang serba guna. Dari situ mereka bisa melihat kamar tidur Calixta, dengan ranjang Bibi di sebelah ranjangnya. Pintu terbuka lebar, dan kamar itu dengan warna putih, ranjang besar, dan  jendelanya yang tertutup tampak temaram dan mencurigakan.
Alcée menghempaskan tubuhnya di atas kursi goyang dan Calixta dengan gugup merapikan hamparan kain katun yang telah di jahitnya.
“Jika hujan deras ini turun cukup lama, hanya Tuhan yang tahu apakah pohon-pohon tidak akan tumbang.”
“Apa perlumu dengan pohon-pohon itu?”
“Banyak! Bobinôt dan Bibi berada di luar sama di tengah badai jika dia tidak berteduh di toko Friedheimer!”
“Mudah-mudahan Bobinôt tidak punya nyali nekat keluar ke jalanan di tengah badai topan ini.”

Calixta beranjak dan berdiri di jendela dengan wajah yang tampak sangat khawatir sambil mengusap tetesan air hujan yang mengembun di kaca jendela. Alcée berdiri di sampingnya dekat jendela sembari menatap keluar melalui bahu perempuan itu. Guyuran deras air hujan menggempur pondok-pondok yang tampak dari kejauhan serta menyelimuti hutan dengan kabut tebal. Kilat sabung menyabung tanpa henti. Petir menyambar sebatang pohon beri cina di tepi ladang. Pohon yang tersambar petir itu tampak berapi menyala dan tumbang menimpa setiap apa yang berada di dekat tempat dia berdiri.
Calixta menutup mata dengan telapak tangannya, dan menangis dia mundur terhuyung-huyung. Alcée yang berdiri tepat di belakangnta, sontak menarik Calixta ke pelukan dadanya yang melingkari tubuh perempuan itu.
“Bonté” ujarnya lirih, sambil melepaskan dirinya dari pelukan Alcée dan beranjak mundur dari jendela, “rumah ini akan bernasib seperti pohon itu juga! Andai aku tahu Bibi ada dimana!” Dia tak bisa menenangkan dirinya dan tak mau duduk. Alcée mengenggam bahunya sembari menatap wajah perempuan itu. Sentuhan hangat yang dirasakan Calixta ketika pria itu menariknya ke pelukannya secara tiba-tiba menggetarkan tubuhnya dan membangkitkan hasrat yang dulu pernah dia rasakan dan nafsu yang ingin dia puaskan.
“Calixta,” ujar pria itu, “Jangan takut. Semua akan baik-baik saja. Petir takkan menyambar ke sini karena rumah ini terlalu rendah dan banyak pohon yang melindungi. Lihat! tenangkan dirimu.” Dia membelai rambut perempuan itu dari belakang wajahnya yang hangat dan dibasahi keringat karena khawatir. Bibirinya merah dan basah bak delima rekah. Leher jenjangnya yang putih mulus dan sekilas bayangan dari dadanya yang tampak keras dan menyesaki bajunya membuat Alcée gelisah tak tenang. Ketika Calixta menatap sekilas kepadanya, raut takut di mata birunya perlahan memudar kini menampakkan hasrat dirinya terhadap Alcée. Alcée menatap dalam ke matanya dan tanpa ragu memagut bibir Calixta dalam ciuman penuh nafsu. Ciuman itu mengingatkannya  tentang Assumption.
“Kau masih ingat Assumption, Calixta?” tanyanya dengan suara berbisik dalam deraan birahi. Oh! Calixta mengingatnya; karena di Assumption Alcée juga menciumnya penuh nafsu seperti saat itu; hingga birahi hampir menguasainya, tetapi Alcée terpaksa meninggalkannya di tempat itu untuk menjaga harga dirinya. Seandainya dia bukan seorang perawan suci waktu itu, dia masih tetap luhur: seorang makhluk yang tengah didera birahi yang ketakberdayaanya telah memberdayakannya, mempertahankan kehormatan yang mesti dijaganya. Tapi kini, bibirnya merekah bebas untuk dia nikmati, begitupun leher mulusnya yang jenjang serta payudaranya yang bulat mulus.
Mereka tidak mempedulikan badai yang berhembus kencang di luar rumah, dan dentuman guntur menemaninya tertawa manja di pelukan pria itu. Dia adalah rahasia yang terungkap dari kamar yang temaram dan mencurigakan itu; seputih ranjang dimana dia berbaring. Tubuhnya yang sintal pertama kali merasakan apa yang dia ingin dapatkan seperti teratai yang diundang mentari berbagi terpaan panasnya dan memberi harum pada kehidupan kekal dunia.
Tumpukan deraan birahinya yang tanpa salah seperti  nyala api yang menghunjam dan ke dalam nafsu terdalam Alcée yang tak pernah tersentuh sebelumnya. Ketika dia membelai dadanya mereka melenakan diri mereka dalam getaran nikmat nafsu. Bibirnya mengecup mulut Calixta yang terasa manis bak telaga kenikmatan. Dan ketika dia mencumbuinya, mereka merasa seperti lenyap melebur bersama di perbatasan misteri kehidupan.
Dengan jantungnya yang berdebar kencang, Alcée bertindih memacu tubuhnya di atas tubuh Calixta yang terengah, linglung, dan lemas. Dengan salah satu tanganya, Calixta mendekap kepala pria itu dan bibirnya dengan lembut mendarat sapuan pada kening Alcée. Sementara tangannya yang sebelah lagi ikut bergerak bersama irama gerakan tubuh kekar yang menindihnya itu.
Raungan guntur mulai terdengar menjauh dan berlalu. Hujan mulai reda dengan tetesan-tetesan pelan merintik di atas atap mengundang mereka tidur karena kelelahan yang mereka alami. Tapi mereka tidak berani tidur dan berserah pada deraan lelah.
III

Hujan berhenti; dan mentari kembali bersinar menerpa dedaunan menjadikannya seperti  istana permata. Calixta, dari serambi, menyaksikan Alcée menunggang kudanya pergi dari rumah itu. Dia menoleh dan tersenyum pada Calixta dengan wajah berseri-seri; dan Calixta mendongakkan dagu manisnya sambil tertawa riang.
Bobinôt dan Bibi, yang berjalan pulang dengan susah payah, berhenti sejenak di selokan bawah tanah merapikan diri.
“Astaga! Bibi. Mamamu pasti marah! Kau mesti memakai celana bagus itu. Lihat! lumpur di kemejamu! Bagaimana bisa ada lumpur di kemejamu, Bibi? Aku tak pernah melihatmu begini?” Bibi tampak seperti sosok yang menyedihkan. Bobinôt tampak cemas ketika dia berusaha menghilangkan dari dirinya serta anaknya tanda-tanda bahwa mereka telah menempuh perjalanan yang sulit melalui daratan yang basah berlumpur. Dia membasuh lumpur di kaki Bibi dan dengan menggunakan ranting dia mengikis jejak-jejak tanah berlumpur pada sepatunya. Kemudian, bersiap-siap bertemu dengan istri yang sangat jelimet, mereka masuk diam-diam dari pintu belakang.
Calixta sedang menyiapkan makan malam. Dia telah merapikan meja makan dan menuangkan kopi ke atas wadah di tungku. Dia terperanjat ketika mereka masuk.
“Oh, Bobinôt! Kau kembali! Aku sangat khawatir. Di mana kau ketika hujan? Dan Bibi? Dia tidak terguyur hujankan? Dia tidak terluka?” Dia memeluk Bibi dan menyiumnya dengan haru. Alasan yang telah dikarang Bobinôt selama di jalan pulang hilang begitu saja karena Calixta melihatnya tidak kebasahan dan tidak berkata apa-apa selain ekspresi kepuasan karena mereka sampai dengan selamat.
“Aku membelikanmu udang, Calixta,” ujar Bobinôt sambil mengeluarkan kaleng dari saku celananya dan meletakannya di atas meja.
“Udang! Oh Bobinôt! Kau baik sekali!” jawabnya sembari mendaratkan kecupan di pipi suaminya, “Terima kasih, kita akan berpesta malam ini! Umph-umph!”
Bobinôt dan Bibi kembali tenang dan merasa senang kembali. Ketika mereka bertiga duduk di meja makan mereka bercanda dan tertawa dengan keras hingga mungkin semua prang bisa mendengar mereka termasuk Alcée Laballire,
IV

 Pada malam itu Alcée menuliskan surat untuk istrinya, Clarisse. Sebuah surat cinta yang berisikan kecemasan Alcée. Dia menyuruhnya tidak perlu buru-buru pulang jika dia dan bayi mereka suka berlama-lama di Biloxi, lebih baik tinggal satu bulan lagi. Dia baik-baik saja meskipun merindukan mereka. Dia rela menahan perpisahan mereka lebih lama lagi karena kesehatan Clarisse dan bayi mereka lebih penting.
V

Adapun Clarisse, dia senang sekali menerima surat dari suaminya. Dia dan bayi itu baik-baik saja. Masyarakat di sana sangat ramah; banyak dari teman dan rekan lamanya ada di sana. Ini pertama kali dalam pernikahanya dia merasa kembali bisa menikmati hari-harinya ketika gadis dulu. Setia pada suaminya, hubungan intim mereka adalah sesuatu yang lebih dari sekedar ingin dia nanti untuk sementara.

Pada akhirnya, badaipun berlalu dan semua orang kembali bahagia.


Sekuntum Mawar Buat Emily
(1930)
Oleh: William Faulkner


I

    Pada saat Emily meninggal dunia, seluruh penduduk kota kami hadir di upacara pemakamannya: para pria yang ingin memberikan penghormatan mereka di masa-masa berkabung, para wanita yang sangat ingin sekali mengetahui isi dalam rumahnya yang tak seorangpun pernah melihanya selama sepuluh tahun belakangan selain seorang pelayan tuanya— tukang kebun sekaligus koki di rumah itu.
    Emily memiliki rumah besar berbingkai kaca berbentuk bujur sangkar. Dulu, rumah itu dipoles dengan cat putih berhiaskan kubah melengkung dengan puncak menara yang tinggi. Selain itu di dalam rumahnya terdapat balkon melingkar bergaya tujuh puluhan diatur dengan gaya yang dulunya menjadi idaman semua seorang. Ketika garasi dan mesin-mesin pemisah biji kapas memasuki dan menyapu kota itu bahkan di antara orang-orang terkemuka di sana, rumah Miss Emily tetap berdiri tak tersentuh, berdiri teguh di antara kepungan kereta-kereta pengangkut kapas dan stasiun-stasiun bahan bakar. Tapi kini Miss Emily telah pergi bergabung dengan nama-nama terkemuka tersebut di tempat mereka dibaringkan, di pemakaman orang-orang terkenal serta prajurit-prajurit korban perang kemerdekaan pada pertempuran Jefferson.
    Semasa hidupya, Miss Emily dikenal sebagai seorang pribadi yang kolot, pekerja keras,dan sosok yang peduli; karena semacam kewajiban yang dilakoninya di kota itu semenjak suatu hari pada tahun 1894 ketika Kolonel Kortis—walikota yang mengeluarkan peraturan tidak boleh ada wanita negro muncul di jalanan tanpa seorang pendamping—mengirimnya surat tagihan pajak, sumbangan yang harus dibayarkanya semenjak kematian ayahnya hingga batas waktu yang tak ditentukan. Bukan berarti Emily bersedia begitu saja memberikan sumbangan itu.  Akan tetapi Kolonel Sartoris berhasil mengarang cerita yang meyakinkanya. Dia mengatakan Ayah Miss Emily meminjam uang ke pemerintah kota dan pemerintah kota memilih cara seperti itu untuk membayar hutang tersebut. Hanya pria di masa Kolonel Sartoris yang bisa menemukan cara seperti itu, dan hanya wanitalah yang mempercayai ceritanya.
    Kesepakatan ini tak lagi berlaku pada generasi pemerintahan sepeninggal Kolonel Sartoris. Pada awal tahun, pemerintah kota  mengirimnya tagihan pajak melalui pos, namun tidak ada balasan yang datang dari Emily hingga Februari. Mereka lalu mengirimnya sebuah surat dinas memerintahkan Emily untuk mampir ke kantor Sheriff untuk kebaikannya. Seminggu berselang, surat kembali datang yang kali ini di tulis oleh walikota itu sendiri. Surat walikota berisikan tawaran kepada Emily apa dia membutuhkan kendaraan untuk ke kantor Sheriff karena walikota bisa mengirim kendaraan pribadinya untuk menjemput Emily. Surat balasan Emily ditulis di sebuah kertas tipis usang dengan tinta yang tidak begitu jelas berisikan bahwa Emily tidak ingin keluar rumahnya sama sekali. Pada balasan itu, dia juga melampirkan tagihan pajak tanpa komentar apapun.
    Emily dan pemerintah kota mengadakan pertemuan khusus dengan rombongan dewan pengurus kota tersebut. Ketua dewan mengetuk pintu rumah Emily dimana tak pernah ada seorang pengunjung datang ke sana semenjak dia berhenti memberikan les melukis lukisan cina delapan atau sepuluh tahun sebelumnya. Seorang tua berkulit hitam menyambut rombongan itu di ruang depan yang remang, dari sana terdapat tangga menuju ruangan atas yang lebih remang lagi. Di ruangan itu tercium bau debu dan barang-barang tak lagi dipakai, bau pengap dan lembab.  Pelayan berkulit hitam itu membawa mereka menuju ruang tamu yang dihiasi oleh perabotan berbahan dasar kulit. Ketika Negro itu membuka tirai salah satu jendela, mereka melihat celah-celah robekan pada bungkus kulit perabotan ruangan itu. Debu tebal yang keluar dari sofa berterbangan di bawah terpaan sinar matahari ketika rombongan tersebut duduk.  Di sebuah bingkai bercak-bercak di depan perapian terpampang potret ayah Emily dilukis dengan cat air.
    Mereka bangkit dari sofa ketika Emily memasuki ruangan itu, seorang wanita pendek bertubuh gempal dibalut pakaian hitam memakai rantai kalung emas yang menjulur hingga ke pinggang dan menghilang dalam balutan ikat pinggangnya. Dia duduk bersandar di sebuah tonggak terbuat dari pohon eboni dengan warna keemasan yang mengelupas. Rangka tubuhnya kecil dan kurus: mungkin dia masih terlihat gempal karena lemak obesitas yang tersisa di tubuhnya. Seperti sesosok yang lama tenggelam dalam genangan air dalam, dia tampak menggembung ditambah lagi dengan warna kulitnya yang pucat. Matanya, hilang dibawah timbunan lemak di wajahnya, tampak seperti dua biji batu bara yang dimasukkan ke dalam gumpalan sebuah adonan. Dengan mata itu,  Emily melihat sekiling menatap seluruh anggota rombongan ketika para tamu tersebut mengutarakan maksud kedatangan mereka.
    Dia tak mempersilahkan tamunya duduk kembali. Dia hanya berdiri di ambang pintu dan mendengarkan juru bicara rombongan itu mengutarakan maksud kedatangan mereka. Setelah juru bicara menyampaikan tujuan mereka,  suasana diam senyap mereka hanya mendengar suara dentingan jam tak terlihat di ujung rantai kalung emas yang dikenakan Emily.
    Emily menjawab dengan nada suara yang ketus dan dingin. “Aku tak memiliki pajak di Jeferson. Kolonel sartoris yang mengatakannya padaku. Silahkan lihat di dokumen kota supaya kalian puas.”
    “Kami telah memeriksanya. Kami adalah dewan pengurus kota, Miss Emily. Apakah anda tidak menerima surat pemberitahuan dari Sherrif yang ditandatangani olehnya sendiri?”
    “Aku memang menerima selembar kertas,” ujar Miss Emily. “Mungkin dia menganggap dirinya seorang Shefriff. Aku tak memiliki tagihan pajak di Jefferson.”
    “Tapi tak ada dokumen yang menunjukkanya. Kami harus menagihnya lewat—”
    “Silahkan tanya pada Kolonel Sartoris. Aku tak punya tagihan pajak di Jefferson.”
    “Tapi, Miss Emily—”
    “Aku katakan, tanyakan pada Kolonel Sartoris.” (Kolonel Sartoris telah meninggal dunia hampir sepuluh tahun). “Sudah ku bilang Aku tidak punya tagihan pajak di kota ini. Tobe!” Pelayan Negro itu muncul. “Antar bapak-bapak ini keluar rumah.”
II

    Dia mengusir mereka sama seperti dia telah mengusir pendahulu mereka tiga puluh tahun sebelumnya pada saat yang sama. Itu dua tahun setelah kematian ayahnya dan beberapa saat setelah kekasihnya— pria yang dipercaya akan menikahinya— meninggalkannya. Sejak ayahnya meninggal dunia dia jarang keluar rumah dan semenjak kekasihnya pergi, penduduk kota jarang sekali melihatnya keluar. Beberapa ibu-ibu telah mencoba berkunjung ke rumahnya tapi tak diterima. Satu-satunya tanda kehidupan di sana hanyala seorang pria Negro—seorang pemuda— yang keluar masuk rumah itu dengan menjinjing keranjang belanjaan.
    “Seolah-olah pria mengerti cara mengurus rumah,” ujar para ibu-ibu di lingkungan tersebut;  jadi mereka tidak heran ketika dari rumah Emily mulai tercium bau yang tidak sedap. Gabungan dari bau bangkai yang dikerumuni serta Grierson.
    “Seorang tetangga wanitanya pernah mengadu kepada walikota, Hakim Steven yang baru berusia delapan tahun.
    “Apa yang harus aku lakukan, Madam?” Tanya walikota itu.
    “Kenapa bertanya, peringatkan dia untuk membersihkannya,” jawab wanita itu. “Bukankah ada hukum mengenai itu?”
    “Aku yakin tak perlu seperti itu”, ujar Hakim Steven. “Itu mungkin hanya bangkai ular atau tikus yang dibunuh oleh pelayan negronya di halaman rumah itu. Aku akan berbicara dengan Negro itu.”
    Keesokan harinya dia menerima dua pengaduan lainnya, salah satunya berasal dari seorang pria yang datang rutukan malu-malu. “Kita harus menangani ini, Hakim. “Aku akan menjadi orang terakhir yang akan memperingatkan Miss Emily, tapi kita harus bertindak.” Malam itu dewan pengurus kota bertemu—tiga orang tua berjanggut kelabu dan seorang pemuda, pria yang tadi mengusulkan mengambil tindakan.
    “Caranya mudah saja,” kata pria itu. “Kirimkan surat kepada Miss Emily berisikan suruhan agar dia membersihkan tempat tinggalnya. Berikan dia tenggang waktu untuk melakukanya, dan jika dia tidak melakukannya...”
    “Yang benar saja, Pak, kata Hakim Steven, “anda akan mendatangi ibu-ibu hanya untuk mengatakan rumahnya berbau busuk?”
    Pada malam keesokan harinya, setelah larut malam, empat orang pria masuk ke halaman rumah Miss Emily dan mengendap-endap seperti seorang pencuri, mengendus-endus di bawah tembok bata hingga pintu gudang bawah tanah sementara salah satu dari mereka bergerak perlahan-lahan sambil menaburkan sesuatu dengan tangannya yang menyandang sebuah karung dibahunya. Mereka membuka paksa pintu gudang bawah tanah dan menebarkan jeruk lemon di situ dan di semua bagian luar bangunan tersebut. Ketika mereka kembali ke halaman depan rumah, lampu menyala di jendela yang tadinya gelap dan Miss Emily duduk di dalamnya dengan bagian atas tubuhnya mematung seperti sebuah berhala. Mereka mengendap-endap diam-diam melintasi halama menuju jalanan gelap yang dijejeri oleh pohon akasia. Satu atau dua minggu kemudian, bau busuk itu telah lenyap.
    Itulah ketika orang-orang mulai merasa kasihan padanya. Penduduk kota kami, masih ingat jelas bagaimana Old Lady Wyatt, neneknya, menjadi gila mempercayai bahwa Grierson menganggap diri mereka terlalu tinggi dari mereka sebenarnya. Tak ada seorang pemudapun yang cukup cocok untuk Miss Emily. Kita menganggap keluarga itu sebagai tablo (sosok-sosok yang tidak bergerak di panggung pertunjukan), sosok langsing Miss Emily berbalut pakaian putih pada latar belakang, siluet tubuh ayahnya di bagian depan, tubuh ayahnya menempel pada Emily memegang sebuah cambuk kuda, dua sosok mereka terbingkai pada bagian belakang pintu depan. Ketika dia menginjak usia tiga puluh dan masih sendiri, kami mulai khawatir tapi kami tidak menyalahkannya; bahkan dengan kegilaan dalam keluarganya bukab berarti dia menolak semua kesempatan yang datang jika mereka benar-benar terwujud.
    Ketika ayahnya meninggal dunia, ini mengenai rumah itu yang  satun-satunya diwariskan padanya; dan para penduduk kota yang bergembira. Pada akhirnya, mereka bisa menunjukkan rasa kasihan mereka kepada Miss Emily. Ditinggalkan sebatang kara dengan sedikit harta akan membuatnya menjadi lebih membaur. Kini dia akan mengerti tekanan dan keputusasaan karena kekurangan harta dan uang.
    Sesuai dengan kebiasaan di kota kami pada hari setelah kematian ayahnya seluruh wanita di sini bersiap-siap untuk menyampaikan rasa belasungkawa mereka serta memberi bantuan yang mungkin diperlukan. Miss Emily menemui mereka di depan pintu rumah dengan pakaian sehari-hari tanpa raut sedih nampak di wajahnya. Dia memberitahu mereka bahwa ayahnya tidak meninggal dunia. Dia melakukan itu selama tiga hari-hari berturut-turut, ketika pendeta menemuinya,dan dokter membujuknya membiarkan mereka menguburkan mayat ayahnya. Ketika mereka akan memutuskan akan mengambil jalan paksa untuk mendapatkan jenazah ayahnya, Miss Emily akhirnya menyerah dan mereka segera menguburkan jenazah tersebut.
    Kami tidak mengatakannya gila. Kami yakin dia terpaksa melakukan itu. Kami ingat dengan jelas semua pemuda yang ditolak ayahnya, dan kamu mengerti dengan tidak ada yang tersisa, dia harus bergantung pada apa yang telah kami ambil paksa dari dia, sebagaimana orang lainnya.
III

    Dia jatuh sakit cukup lama. Ketika kami melihatnya lagi, rambutnya dipotong pendek membuatnya terlihat seperti seorang gadis muda, sedikit mirip dengan lukisan-lukisan malaikat di jendela-jendela gereja.
    Pemerintah kota baru saja menandatangani kontrak untuk memasang batu trotoar, dan mereka mulai bekerja pada musim panas setelah kematian ayahnya. Perusahaan pembangunan datang dengan pemasang batu, mesin-mesin dan seorang mandor bernama Homer Baron, seorang Amerika—pria dewasa berbadan tegap berkulit coklat dengan suara berat serta mata yang lebih terang dari kulitnya. Bocah-bocah lelaki bergerombol mengikutinya untuk mendengarnya memarahi para pemasang batu, dan para pemasang batu menyanyi seirama dengan gerakan mereka memasang batu trotoar. Tak lama berselang, dia mengenali semua orang di kota ini. Kapanpunarai  kau mendengar ada tawa disebuah kerumunan orang, itu berarti ada Hormer Barron di tengah mereka. Belakangan, kami melihat dia dan Miss Emily pada siang di hari minggu mengendarai kereta kuning beroda yang ditarik oleh sepasang kuda yang dipelanai seragam.
    Awalnya kami senang Miss Emily memiliki seseorang yang menarik baginya, karena semua wanita di kota itu berkata, “Pastinya seorang Grierson tidak benar-benar tertarik pada seorang dari utara, pekerja kasar pula.” Yang lain terutama yang tua-tua mengatakan bahkan duka dalam sekalipun tak mungkin membuat seorang wanita lupa akan darah birunya. Mereka hanya bisa bilang, “Kasihan Emily. Kerabatnya semestinya ada yang datang menjenguknya.” Dia memiliki saudara di Alabama; tapi beberapa tahu lalu ayahnya bertengkar dengan mereka karena warisan Old Lady Wyatt, wanita yang gila itu. Semenjak itu, kedua keluarga besar itu putus hubungan. Mereka bahkan tidak hadir pada pemakaman ayah Miss Emily.
    Secepat orang-orang tua itu mengatakan , “Kasihan Emily,” bisik-bisik di kota itu bersebar. “apak kamu yakin begitu adanya?” tanya mereka satu sama lain. .”tentu saja, apa lagi yang bisa ......”. Mereka membicarakan itu di belakang mereka; berkomat-kamit karena kecemburuan di bawah terpaan sinar matahari pada siang hari minggu itu ketika suara klo-klop-klop dari kereta kudanya lewat di tengah mereka: “Kasihan Emily.”
    Dia mendongakkan kepalanya cukup tinggi—bahkan di suasana suram seperti itu. seolah dia menuntut lebih dari sekedar pengakuan atas martabatnya sebagai keturunan Grierson yang terakhir. Seolah dia menginginkan sentuhan lembut untuk menguatkan kembali keteguhan hatinya. Seperti ketika dia membeli racun tikus, Arsenik. Itu terjadi setahun yang lalu sebelum penduduk kota mulai berbisik-bisik “kasihan Emily,” dan ketika dua sepupu perempuannya datang berkunjung.
    “Aku mau beli racun,” ujarnya kepada apoteker. Saat itu dia berusaha tiga puluh tahun. Ketika itu dia masih bertubuh langsing, meski lebih kurus dari biasanya, dengan mata hitamnya yang dingin dan kaku pada wajahnya yang berkerut di sekitar pelipis dekat kantung mata seperti wajah penjaga menara mercusuar yang sedang berjaga-jaga. “Aku mau beli racun,” ulangnys.
    “Iya, Miss Emily. Racun apa? Untuk tikus atau? Aku sarankan—”
    “Apa yang paling bagus. Aku tak peduli mereknya.”
    Apoteker itu menyebutkan beberapa merek. “Mereka bisa membunuh apapun bahkan seekor gajah. Tapi yang anda inginkan adalah—“
    “Adalah . . . arsenik? Iya, nyonya. Tapi yang kau inginkan—“
    “Aku mau arsenik.”
    Apoteker itu melihat ke arahnya. Dia menatap balik mengencangkan raut wajahnya seperti bendera yang sedang berkibar. “Tentunya,” kata apoteker itu. “Jika anda mau itu. Tapi menurut hukum anda harus bilang untuk apa anda akan menggunakan racun tersebut.”
    Miss Emily hanya menatap dingin padanya, kepalanya dia miringkan ke belakang untuk melihatnya mata ke mata hingga apoteker itu melihat ke arah lain dan mengambil arsenik lalu membungkusnya. Bocah Negro pelayan toko memberinya bungkusan paket pesanan itu; apoteker itu tidak muncul. Ketika dia membuka bungkusan itu di rumah, ada sebuah tulisan di kotak itu dibawah gambar tengkorak dan tulang: “untuk tikus.”
IV

    Esok harinya kami berkata, “Dia akan bunuh diri”; dan kami juga bilang itu hal yang terbaik baginya. Ketika dia mulai terlihat lagi bersama Harmer Brown, kami bilang, “Dia akan menikah dengannya.” Tak lama berselang, kami bilang, “Dia mungkin akan membujuknya,” karena Homer mengatakan—dia menyukai pria, dan diketahui orang banyak bahwa dia sering minum-minum dengan beberapa pemuda di klub Elk—bahwa dia tidak menikah. Kemudian kami bilang, “Kasihan Emily” dibelakang derapan keretanya ketika dia lewat di depan kami pada minggu siang itu dengan keretanya, Miss Emily dengan kepalanya yang mendongak tinggi dan Hormer Barron dengan topinya yang dilekuk dan rokoh di mulutnya,  mengendalikan kereta itu dengan cambuk di tanganya yang memakai sarung tangan kuning.
    Kemudia para ibu-ibu mulai berbisik-bisik Emily merupakan aib bagi kota itu dan memberikan contoh yang tidak bagus pada generasi muda. Para pria di kota itu tidak mau ikut campur urusan itu, tetapi para ibu-ibu pada akhirnya memaksa pendeta di sana untu memperingatkanya. Dia tak pernah menceritakan kepada mereka isi pembicaraanya dengan Emily, dan tidak mau mendatanginya kembali. Minggu berikutnya Emily dan Hormer muncul kembali berduaan mengendarai kereta di jalanan, dan pada keesokan harinya istri pendeta di sana mengirim surat kepada kerabat Emily di Alabama.
Kerabat Emily datang dari Alabama dan menginap di rumahnya; kamipun menyaksikan bagaimana perkembangannya. Pada mulanya, tidak ada yang berubah. Kemudian kamu mulai yakin mereka akan menikah. Kami melihat Miss Emily pergi ke tokoh perhiasan dan memesan kaca rias pria berwarna perak berlukiskan huruf H.B pada tiap-tiap sisiny. Dua hari kemudian kami melihat dia membeli setelan lengkap pria termasuk baju tidur, dan kami berkata, “Mereka menikah.” Kami sangat senang karena dua sepupu Emily yang datang ke sana lebih Grierson daripada Emily.
    Jadi kami tidak heran ketika Homer Baron—pekerjaan jalan telah selesai—pergi dari kota itu. Kami sedikit kecewa mereka tidak mengumumkan pernikahan mereka kepada penduduk kota, tapi kami yakin dia mempersiapkan kedatangan Emily, atau memberinya kesempatan untuk menyingkirkan sepupunya dari rumah itu. (Pada waktu itu ada komplotan rahasia, kami diam-diam membantu Miss Emily untuk menyingkirkan sepupunya). Tepatnya setelah seminggu berlalu, kerabat Emily pergi dari rumahnya.  Sebagaimana yang kami duga selama ini, dalam tiga hari Homer Brown kembali ke kota itu. Seorang tetangga melihat pelayan Negro itu menyambutknya di pintu dapur pada suatu senja.
    Dan itu terakhir kalinya, kami melihat Homer Brown meskipun kami masih melihat Miss Emily beberapa kali. Pria Negro tetap keluar masuk dari rumah itu dengan menjinjing keranjang belanja, tapi pintu rumah itu tetap tertutup. Beberapa kali, kami melihat Emily di jendelanya, seperti yang dilihat oleh para pria yang dulu menaburkan lemon ke rumah Emily untuk menghilangkan bau, tapi hampir selama enam bulan dia tak pernah terlihat berada di luar rumahnya. Kemudian kami tahu ini seperti apa yang kami duga; seolah kelakuan ayahnya yang telah menyulitkan kehidupannya sebagai seorang wanita sangat membinasakan dan sulit untuk dilupakan.
    Ketika kami melihat Miss Emily kembali, dia berubah menjadi gemuk dan rambutnya berubah abu-abu. Selama tahun-tahun berikutnya, rambutnya semakin abu-abu dan pada akhirnya seluruh rambutnya berwarna abu-abu pekat. Hingga kematiannya pada usianya ke tujuh puluh empat, rambutnya tetap berwarna seperti itu.
    Sejak waktu itu, pintu rumahnya selalu tertutup, kecuali beberapa waktu selama enam atau tujuh tahun, ketika dia berusia empat puluh, saat itu dia memberikan les melukis lukisan cina. Dia mendirikan sebuah studio di salah satu ruang bawah rumahnya, di mana puteri dan cucu penerus Kolonel Sartoris berangkat ke rumah itu secara teratur dengan semangat yang sama ketika mereka berangkat ke sekolah minggu dengan uang belanja 25 sen. Sementara itu tagihan pajaknya tetap dikirim.
    Kemudian generasi muda di kota itu menjadi tulang punggung, anak-anak yang dulunya belajar melukis tumbuh dewasa dan tidak menyuruh anak-anak mereka belajar melukis ke rumah Emily. Pintu rumah Emily pada akhirnya tertutup selamanya semenjak itu. Ketika penduduk kota mendapat layanan post gratis, Miss Emily satu-satunya penduduk kota yang menolak memasang nomor pos serta kotak surat di rumahnya. Dia tidak mau mendengar petugas pos tersebut.
    Hari berlalu, bulan dan tahun berganti, kami melihat Negro itu semakin tua dan bungkuk, keluar masuk rumah itu dengan menjinjing keranjang belanja. Setiap bulan Desember kami tetap mengirimnya surat tagihan pajak, yang seminggu nantinya akan dikirim kembali ke kantor pos tanpa komentar. Beberapa kali, kami melihatnya di salah satu jendela lantai bawah—dia tempaknya telah menutup lantai atas rumah tersebut—seperti patung torso. Kami tak pernah tahu pasti apakah dia melihat kepada kami atau tidak. Begitulah dia selama tahun-tahun yang lama berlalu—terhormat, tak terelakkan, tak tersentuh, tenang dan suka menentang.
    Kemudian dia meninggal dunia. Menghembuskan nafas terakhirnya di rumah berdebu dan gelap hanya dengan seorang Negro yang gemetar menungguinya. Kami bahkan tidak tahu kalau dia sakit; kita telah lama menyerah mengorek informasi tentangnya dari Negro itu. Dia tak pernah berbicara pada siapapun, mungkin bahkan pada Emily sekalipun, karena suaranya terdengar kelu dan serak seolah tak pernah digunakan.
    Dia meninggal di salah satu ruangan lantai bawah, di atas ranjang berkelambu  terbuat dari kayu kenari, rambut abu-abunya yang apak oleh usia dan jarang terkena sinar matahari menopang kepalanya di atas bantal berwarna kuning
V

    Negro itu menyambut ibu-ibu di pintu depan dan membiarkan mereka masuk, dengan kediaman dan suara berbisik-bisik serta tatapan mereka yang penuh rasa ingin tahu isi rumah itu, kemudia Negro itu menghilang. Dia berjalan lewat ruang depan dan pergi ke belakang dan tak terlihat lagi.
    Dua sepupu Emily segera datang. Mereka memakamkan jenazah Emily pada hari kedua, dengan dihadiri oleh seluruh penduduk kota menyaksikan Miss Emily bersemayam di bawah tumpukan bunga, dengan lukisan wajah ayahnya merenung di antara usungan tandu dan bisikan ibu-ibu; serta pria-pria berusia lanjut—beberapa dari mereka mengenakan seragam persatuan—di serambi depan dan halaman rumah, membicarakan Emily seolah-olah mereka kenal denganya, percaya bahwa mereka pernah berdansa dengannya atau mungkin berkencan, membingungkan waktu dengan hitungan matematisnya, sebagaimana yang biasa terjadi pada orang-orang tua, bagi mereka yang masa lalu belumlah menjadi jalan yang telah hilang tetapi, bukannya seperti padang rumput luas dimana tak pernah terterpa musim dingin, kini terpisahkan dari mereka oleh lembah sempit selama puluhan tahun berakhir.
    Kamu mengetahui ada satu ruangan di lantai atas yang seorangpun pernah melihatnya selama empat puluh tahun, dan harus dibuka secara paksa. Mereka menunggu hingga Miss Emily dimakamkan secara layak sebelum membuka ruangan itu.
    Suara gaduh pintu yang dibuka secara paksa mengisi ruangan ini ditambah dengan debu yang berterbangan. Tebal, kain penutup peti mati tampak terbentang menutupi ruangan ini didandani dan dihiasi seperti untuk pengantin: di atas tirai kelambu berwarna merah mawar yang memudar, di atasnya terdapat cahaya temaram, di  atas meja rias, di atas susunan kristal lembut dan lemari pakaian pria berpoles warna perak yang mulai mengelupas. Di atasny terbentang sebuah kemeja dan dasi, yang tampak seperti baru ditanggalkan, ketika diangkat mereka meninggalkan bentuk bulan sabit pada permukaan yang berdebu. Diatas kursi digantung sebuah setelan, yang dilipat rapi; dibawahnya ada dua sepatu dan kaus kaki usang.

    Pria itu berbaring di atas ranjang.
    Lama kami mematung dan menatap terkejut seulas ringisan pada tubuh yang tak berdaging itu. Tampaknya tubuh itu dulu berbaring sedang memeluk sesuatu, tapi kini tertidur panjang yang yang memudarkan ringisan cinta yang telah menyakitinya. Apa yang tersisa darinya, membusuk dibawah apa yang kini tampak seperti baju tidur, menjadi tak memungkinkan dia untuk melarikan diri dari kasur tempat dia terbaring; di atas tubuhnya dan bantal di sampingnya diselimuti oleh debu yang sangat tebal.
    Kemudian kami melihat bekasan lekukan kepala pada bantal di sampingnya. Salah seorang dari kami memungut sesuatu dari bantal itu. Bergelombang ke depan, kusam dan kering berdebu serta berbau busuk menyengat hidung, kami melihat sehelai rambut panjang berwarna abu-abu pekat.


Pengunjung Blog

Komentar Terbaru

My Blog Rank

SEO Stats powered by MyPagerank.Net

Advertisement

Translate

Popular Posts

Visitors

Total Pageviews

Powered by Blogger.

Followers